LAKUKAN DENGAN BENAR
LAKUKAN DENGAN BENAR
Keluaran 39:32
“Demikianlah diselesaikan segala pekerjaan melengkapi Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu. Orang Israel telah melakukannya tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa. Demikianlah mereka melakukannya.”
Ayat ini mencatat satu hal yang sederhana, namun sangat penting
segala pekerjaan yang Tuhan percayakan diselesaikan dengan benar.
Tidak asal jadi, tidak setengah-setengah dan tidak menyimpang dari yang diperintahkan.
Dari ayat inilah kita belajar bahwa Tuhan adalah Allah yang detail dan Tuhan memanggil umat-Nya untuk mengikuti Dia dengan kesungguhan yang sama
dalam setiap bagian kehidupan.
Ada satu frasa sederhana yang sering kita dengar, tetapi jarang benar-benar kita hidupi: lakukan dengan benar.
Bukan lakukan asal jadi.
Bukan lakukan sekadarnya.
Bukan lakukan karena kewajiban.
Melainkan melakukan sesuatu dengan kesungguhan, ketepatan, dan tanggung jawab.
Prinsip inilah yang terlihat jelas ketika Tuhan memberikan tugas kepada Musa dan bangsa Israel. Mereka tidak diminta berkreasi sebebas-bebasnya. Mereka diminta mengikuti petunjuk Tuhan dengan setia dan teliti. Dan hasilnya dicatat dengan satu kalimat penting yaitu segala pekerjaan itu diselesaikan tepat seperti yang diperintahkan Tuhan.
Allah yang Detail
Tuhan adalah Allah yang detail.
Ia bukan hanya peduli pada hasil akhir, tetapi juga pada proses. Ia bukan hanya melihat apakah sesuatu selesai, tetapi bagaimana cara sesuatu itu dikerjakan.
Ketika Tuhan memberikan rancangan Kemah Suci, petunjuknya sangat rinci. Ukuran, bahan, warna, urutan, dan fungsi, semuanya diperhatikan. Tidak ada bagian yang dianggap terlalu kecil atau tidak penting. Hal ini menunjukkan satu hal bahwa bagi Tuhan, detail itu berarti.
Jika Tuhan begitu peduli pada bangunan fisik, pada benda-benda yang bersifat sementara, apakah mungkin Tuhan tidak peduli pada hidup kita? Kita bukan benda mati. Kita adalah manusia yang hidup. Jika pada hal-hal fisik saja Tuhan sedetail itu, tentu Tuhan jauh lebih peduli pada kehidupan kita sehari-hari.
Mengikut Tuhan Tidak Bisa Asal-Asalan
Karena Tuhan detail, mengikut Tuhan pun tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan.
Mengikut Tuhan bukan aktivitas sambilan.
Bukan sesuatu yang dilakukan jika ada waktu luang.
Bukan sekadar rutinitas mingguan.
Mengikut Tuhan berarti mendekat, bukan menjaga jarak.
Berarti hadir dengan kesungguhan, bukan sekadar hadir secara fisik.
Datang bukan hanya untuk memenuhi kewajiban, tetapi untuk bertumbuh dan berubah.
Kehidupan iman yang hanya diisi dengan rutinitas tanpa keterlibatan akan menjadi kering. Kita bisa datang, duduk, dan pulang, tetapi tetap sama. Padahal tujuan mengikut Tuhan bukan sekadar hadir, melainkan dibentuk.
Masuk ke Detail Kehidupan Iman
Iman tidak bertumbuh di permukaan. Iman bertumbuh ketika kita mau masuk ke dalam detail kehidupan bersama Tuhan dan sesama. Salah satu cara Tuhan membentuk kita adalah melalui komunitas dan relasi.
Di dalam kebersamaan, kita belajar mengenal orang lain.
Belajar mendengar cerita mereka.
Belajar memahami pergumulan mereka.
Belajar tidak hanya mendoakan diri sendiri.
Komunitas bukan tempat untuk tampil sempurna. Komunitas adalah tempat untuk bertumbuh bersama. Di sanalah kita belajar sabar, belajar rendah hati, belajar mengasihi orang yang tidak selalu mudah dikasihi. Justru di situlah karakter kita dibentuk dengan nyata.
Tuhan Mengubah dari Dalam
Mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh akan membawa perubahan. Bukan perubahan permukaan, tetapi perubahan dari dalam. Dunia mengenal perubahan instan, perubahan luar, perubahan yang bersifat kosmetik. Tetapi Tuhan bekerja lebih dalam dari itu.
Tuhan tidak hanya memperbaiki perilaku, Tuhan membentuk karakter.
Tidak hanya mengubah kebiasaan, tetapi cara berpikir dan cara memandang hidup.
Banyak orang ingin hidup bersama Tuhan tanpa mau diubah. Tetapi mengikut Tuhan berarti bersedia disentuh, dibentuk, bahkan “dibedah” di bagian-bagian yang selama ini tersembunyi. Proses ini tidak selalu nyaman, tetapi selalu membawa kebaikan.
Follow Well, Before You Lead Well
Ada satu prinsip penting dalam kehidupan rohani yaitu sebelum seseorang bisa memimpin dengan benar, ia harus belajar mengikut dengan benar. Mengikut Tuhan bukan langkah kecil. Ini keputusan besar yang akan memengaruhi seluruh hidup.
Orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan akan belajar mempercayai orang lain, belajar mengasihi orang yang masih berproses dan belajar memberi kesempatan sebagaimana ia sendiri menerima kesempatan dari Tuhan.
Mengikut Tuhan dengan benar juga berarti berani berubah, baik dari sikap minder, sikap sombong, maupun sikap kritis yang lahir dari arogansi. Tuhan tidak memanggil kita untuk tetap sama. Tuhan memanggil kita untuk menjadi serupa dengan hati-Nya.
Diselesaikan dengan Benar
Ada satu kata yang sangat kuat yaitu diselesaikan.
Bukan ditinggalkan di tengah jalan.
Bukan dikerjakan setengah-setengah.
Tetapi diselesaikan.
Tuhan tidak mencari hasil “lumayan”. Tuhan tidak mencari “cukup baik”. Prinsip Tuhan adalah well done. Apa pun yang Tuhan percayakan, baik besar atau kecil, layak dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Dan yang luar biasa, Tuhan tidak pernah memberi tugas tanpa memberi kemampuan. Bersamaan dengan tanggung jawab, Tuhan memberikan Roh-Nya. Tuhan menyertai, menguatkan dan menuntun. Namun tetap ada bagian kita yaitu memilih untuk taat dan berkomitmen.
Kerinduan, Bukan Tekanan
Melakukan dengan benar bukan tentang tekanan. Ini bukan tuntutan yang menindas. Ini tentang kerinduan hati. Kerinduan untuk menyenangkan Tuhan. Kerinduan untuk memberi yang terbaik, bukan demi pujian manusia, tetapi sebagai ungkapan kasih.
Kita memang tidak akan pernah sempurna. Tetapi kerinduan untuk melakukan yang terbaik itulah yang Tuhan lihat. Bukan hasil tanpa cacat, melainkan hati yang sungguh-sungguh.
Ketika hati kita rindu melakukan kehendak Tuhan dengan benar, Tuhan akan menyelesaikan pekerjaan itu bersama kita.
Tidak Pilih-Pilih Pekerjaan
Satu hal penting lainnya, Musa menyelesaikan segala pekerjaan.
Artinya, tidak memilih yang enak saja.
Tidak menghindari yang kotor.
Tidak hanya mengambil bagian yang terlihat.
Dalam melayani dan mengikut Tuhan, kita tidak dipanggil untuk memilih-milih. Kita dipanggil untuk setia. Biarlah orang lain yang menilai dan mengonfirmasi di mana kita paling berdampak. Yang terpenting adalah kesiapan hati untuk berkata, “Tuhan, pakai aku di mana pun Engkau mau.”
Lakukan dengan Benar
Apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita hari ini baik pekerjaan, pelayanan, keluarga, relasi, tanggung jawab, lakukanlah dengan benar.
Bukan karena terpaksa.
Bukan karena ingin terlihat baik.
Tetapi karena kita rindu menyenangkan Tuhan.
Dan suatu hari, kita akan mendengar pengakuan itu dari Tuhan sendiri
“Baik sekali.”
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar