ESTER BERANI MATI


Keberanian yang Lahir dari Persiapan Rohani

Ester sepenuhnya sadar akan resiko yang ia hadapi. Ia tahu bahwa jika ia muncul di hadapan raja tanpa undangan resmi, konsekuensinya bukan sekadar teguran, melainkan kematian. Hukum kerajaan tidak bisa diubah. Bahkan seorang ratu pun tidak luput terhadapnya.

Pada masa itu, istana bukan tempat yang aman. Raja hidup di tengah ancaman dan para penjaga istana dilatih untuk bertindak cepat tanpa ragu. Seseorang yang muncul tiba-tiba di ruang tahta akan langsung dibunuh, bahkan sebelum raja sempat bereaksi. Ester mengetahui fakta ini dengan sangat jelas.

Namun di tengah kesadaran akan bahaya itu, Ester mengambil keputusan yang mengguncang hati,
“kalau terpaksa aku mati untuk bangsaku, biarlah aku mati.”

Ini bukan kalimat heroik yang diucapkan dengan emosi sesaat. Ini adalah keputusan yang lahir dari pemahaman penuh akan resiko. Besar kemungkinan Ester sendiri yakin bahwa ia akan mati. Secara logika manusia, peluangnya untuk hidup hampir tidak ada.

Yang membedakan Ester bukan sekadar keberaniannya, tetapi cara ia mempersiapkan diri.

Ester tidak bertindak gegabah. Ia tidak berkata, “yang penting maju dulu,” atau “apa pun yang terjadi, terjadilah.” Ia mengerti bahwa ini adalah misi ilahi dan misi ilahi tidak pernah dijalani tanpa persiapan rohani.

Sebelum melangkah ke pelataran istana, Ester terlebih dahulu menyiapkan hatinya. Ia menetapkan puasa tiga hari tiga malam tanpa makan dan tanpa minum. Bukan hanya dirinya, tetapi seluruh bangsanya ia ajak masuk dalam doa dan puasa yang sama. Ester memahami bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada posisinya sebagai ratu, melainkan pada ketergantungannya kepada Tuhan.

Keberanian Ester bukan keberanian kosong. Itu adalah keberanian yang lahir dari hubungan dengan Tuhan. Ia tahu bahwa jika ia harus mati, biarlah itu terjadi dalam ketaatan. Dan jika ia hidup, itu hanya karena Tuhan sendiri yang bertindak.

Di sinilah kita melihat satu prinsip penting
ketaatan yang berisiko selalu dimulai dengan persiapan rohani.

Ester tidak mengandalkan keberanian pribadi, kecantikan atau kedekatan emosional dengan raja. Ia mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Dan justru di titik inilah kuasa Allah dinyatakan, bukan melalui sikap nekat, melainkan melalui hati yang siap dan tunduk.

Kisah Ester mengingatkan kita bahwa iman sejati tidak pernah asal melangkah. Iman sejati tahu kapan harus berhenti, berdoa, berpuasa dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan sebelum bertindak.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI