ESTER WANITA DIPILIH OLEH TUHAN


Ketika Tuhan Memilih Ester untuk Menyelamatkan Bangsa

Dalam Alkitab, ada satu figur perempuan yang kisahnya tidak pernah habis digali yaitu Ratu Ester. Melalui hidupnya, kita melihat dengan jelas bagaimana Tuhan memakai seorang perempuan, bukan sebagai figuran, tetapi sebagai alat utama untuk menyelamatkan satu bangsa dari pemusnahan.

Kisah ini dicatat dalam Kitab Ester pasal 5 ayat 1, ketika Ester berdiri di pelataran istana raja. Ini bukan sekadar adegan keberanian. Ini adalah puncak dari sebuah perjalanan iman, persiapan rohani dan ketaatan total kepada panggilan ilahi.

Bangsa Yahudi sedang berada di ambang kehancuran. Ancaman itu nyata. Namun Tuhan tidak memilih seorang pahlawan laki-laki, jenderal perang atau tokoh politik besar. Tuhan memilih seorang perempuan. Seorang ratu. Seorang putri.

Secara manusia, pilihan ini mungkin terasa tidak biasa. Mengapa bukan laki-laki? Mengapa bukan figur yang tampak “kuat” secara lahiriah? Namun justru di situlah kita melihat cara kerja Tuhan. Ester memiliki kualitas yang tidak bisa digantikan, pengaruh yang lahir dari kelemahlembutan, kepekaan hati dan keberanian yang dibungkus dalam ketenangan.

Kelemahlembutan Ester bukan kelemahan. Itu adalah kekuatan. Bukan untuk menggoda, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membawa agenda kebenaran dan keadilan. Ada jenis pengaruh yang tidak bisa dihasilkan oleh kekerasan suara atau tekanan kuasa. Pengaruh itu lahir dari hati yang tunduk kepada Tuhan.

Ester tidak bertindak gegabah. Ia tidak mengandalkan keberanian kosong. Ia mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh. Ia berpuasa. Ia mengajak bangsanya berpuasa. Ia menata hatinya sebelum melangkahkan kakinya. Karena ia sadar, misi ini bukan sekadar urusan pribadi, tetapi panggilan ilahi yang mempertaruhkan nyawa.

Di sinilah letak kekuatan perempuan yang sejati. Bukan pada penampilan luar semata, tetapi pada keputusan hidup untuk mempersiapkan diri menjadi yang terbaik di hadapan Tuhan. “Pakaian ratu” yang dikenakan Ester bukan hanya soal busana, tetapi sikap hati, siap berdiri, siap taat dan siap dipakai Tuhan.

Melalui kisah ini, wanita diajak melihat diri sendiri bukan sekadar sebagai manusia biasa, tetapi sebagai putri Kerajaan Allah. Ada kelebihan yang Tuhan tanamkan. Ada peran yang Tuhan percayakan. Baik dalam keluarga, di tempat kerja, dalam pelayanan, maupun dalam relasi dengan sesama. Perempuan memiliki kuasa pengaruh yang Tuhan rancang dengan indah.

Kekuatan itu bukan untuk disembunyikan. Bukan pula untuk disalahgunakan. Tetapi untuk dipersembahkan kembali kepada Tuhan, agar melalui hidup wanita, maksud-Nya dinyatakan.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI