INNER BEAUTY = HARGAI TUBUHMU
Memakai Pakaian Ratu - Menghargai Hidup, Memuliakan Tuhan
Dalam kisah Kitab Ester, ada satu sikap Ester yang sering dilewatkan orang,
ia datang menghadap maut, tapi tidak datang dengan sikap setengah hidup.
Ester tahu resikonya. Ia sadar betul bahwa tampil di hadapan raja tanpa undangan formal berarti hukuman mati. Hukum kerajaan tidak bisa diubah. Zaman itu adalah zaman perang. Pengamanan raja sangat ketat. Bahkan sebelum raja sempat berkata apa pun, para pengawal bisa langsung membunuh siapa pun yang dianggap ancaman.
Ester tahu kemungkinan terbesar adalah ia akan mati.
Namun perhatikan satu hal penting,
ia tetap mengenakan pakaian ratu.
Ia tetap berdandan. Rambutnya ditata. Wajahnya dipersiapkan. Pakaiannya dikenakan dengan penuh kesadaran.
Bukan karena ia ingin menarik simpati manusia, tetapi karena ia menolak hidup dengan sikap setengah-setengah.
Pesannya sangat jelas:
“Kalau aku mati hari ini, biarlah aku mati.
Tapi aku tidak mau hidup sia-sia.”
Banyak orang, ketika kehilangan harapan, mulai berhenti menghargai hidupnya sendiri.
Tidak lagi menjaga tubuhnya.
Tidak lagi merawat dirinya.
Tidak lagi peduli bagaimana ia hadir dalam hidup ini.
Padahal itu bukan kerendahan hati, itu keputusasaan.
Ester mengajarkan hal yang berbeda.
Ia berkata lewat tindakannya:
“Lebih baik mati sepenuhnya, daripada hidup setengah mati.”
Kalau memang waktunya tiba, biarlah itu urusan Tuhan.
Tetapi selama kita masih diberi hari, bahkan jika itu hari terakhir,
hiduplah dengan penuh hormat terhadap hidup yang Tuhan beri.
Bayangkan seorang perempuan yang divonis hanya punya tiga bulan hidup.
Itu berarti sekitar 90 hari.
Pesannya jelas, pakailah pakaian ratu setiap hari itu.
Bukan soal kemewahan.
Bukan soal pamer.
Bukan soal perhiasan berlebihan atau ingin dilihat orang.
Ini soal inner beauty, kecantikan batiniah.
Dan ketika batin seseorang sehat,
ia akan menghargai tubuhnya,
ia akan menghargai waktunya,
ia akan merawat dirinya.
Merawat diri bukan dosa.
Menghargai tubuh bukan kesombongan.
Alkitab justru mengajarkan, muliakan Tuhan dengan tubuhmu.
Ester tidak berkata, “Sudahlah, mau mati juga.”
Ia berkata lewat sikapnya:
“Selama aku hidup, aku akan hidup dengan penuh hormat kepada Tuhan dan kepada hidup itu sendiri.”
Itulah kekuatan perempuan.
Bukan terletak pada penampilan luar semata,
tetapi pada keputusan untuk tidak menyerah secara batin,
bahkan ketika kematian sudah di depan mata.
.png)
Komentar
Posting Komentar