JANGAN MENDUAKAN TUHAN
Bukan Hanya Soal Hati , Ketika Berhala Itu Nyata dan Harus Ditinggalkan
Sering kali ketika berbicara tentang berhala, kita langsung berkata, “Oh, itu kan cuma soal hati.” Benar, berhala memang bisa berupa berhala hati, ambisi, uang, relasi, pengakuan. Tetapi kita perlu jaga-jaga, karena Alkitab juga berbicara tentang berhala yang nyata, sungguhan dan tidak bisa disederhanakan hanya dengan alasan ‘yang penting hatinya baik’.
Hari ini, kita perlu jujur. Ada orang-orang yang sebenarnya ingin melepaskan berhalanya, tetapi terjebak dalam pembenaran rohani. Seolah-olah selama kita masih berdoa, masih menyebut nama Yesus, maka semua tindakan kita sah. Padahal tidak demikian.
Mari kita pakai ilustrasi sederhana.
Bayangkan seseorang bertemu mantannya di jalan atau di mall. Lalu ia berkata kepada pasangannya, “tidak apa-apa kok, yang penting kan hatiku buat kamu.” Kedengarannya rohani, tetapi sebenarnya itu tidak jujur dan tidak sehat.
Alkitab menggambarkan gereja sebagai mempelai wanita, dan Kristus sebagai mempelai pria. Artinya, relasi itu eksklusif, setia dan kudus. Maka ketika kita dengan sengaja menjaga kedekatan, keramahan berlebihan atau keintiman yang tidak perlu dengan “mantan” baik secara harfiah maupun rohani, kita sedang bermain di wilayah yang berbahaya.
Ada yang berkata, “Terpaksa kok, demi sopan santun.”
Ada yang berdalih, “Takut dianggap sombong.”
Ada yang bersembunyi di balik alasan budaya, cipika-cipiki, sok ramah, supaya tetap diterima.
Tetapi pertanyaannya, apa yang sebenarnya kita takuti ?
Apakah kita lebih takut kehilangan popularitas daripada menyakiti hati pasangan kita ?
Apakah kita lebih takut tidak dimengerti orang lain daripada tidak setia kepada Tuhan ?
Apakah kita lebih takut dicap aneh, daripada melanggar kekudusan ?
Kejujuran pahitnya adalah ini, banyak orang Kristen berkata, “aku tidak apa-apa melakukan ini, yang penting aku tetap doa sama Yesus.”
Tetapi kebenaran firman Tuhan tidak bisa ditipu.
Seolah-olah dari surga ada suara yang berkata, “itu bohong.”
Sebab sebelum apa pun, sebelum perasaan, sebelum budaya, sebelum pembenaran diri, tidak boleh ada apa pun yang kita sembah, kita prioritaskan atau kita beri ruang yang seharusnya hanya milik Tuhan.
Firman Tuhan jelas
Kau tidak boleh sujud menyembah kepada apa pun juga selain kepada Tuhan.
Berhala tidak selalu berupa patung. Kadang ia berupa relasi lama yang tidak dilepaskan. Kadang berupa kebutuhan untuk disukai. Kadang berupa ketakutan kehilangan posisi, citra atau rasa aman.
Kasih kepada Tuhan bukan hanya soal doa, tetapi juga soal batasan. Bukan hanya soal hati, tetapi juga soal tindakan nyata. Setia kepada Tuhan sering kali berarti berani tidak disukai, berani dianggap aneh dan berani melanggar “kode budaya” demi kebenaran.
Karena pada akhirnya, kesetiaan tidak diukur dari seberapa rohani kata-kata kita, tetapi dari apa yang benar-benar kita lepaskan demi Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati
.png)
Komentar
Posting Komentar