JANGAN TERLAMBAT DALAM WAKTU TUHAN
Matius 2:20 mencatat satu perintah Tuhan yang sederhana, namun sangat dalam maknanya:
“Bangunlah, ambillah Anak itu serta Ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.”
Jika kita membandingkan ayat ini dengan perintah Tuhan sebelumnya kepada Yusuf (Matius 2:14), kita akan melihat kontras yang sangat jelas.
Saat Yusuf diperintahkan untuk menyingkir ke Mesir, firman Tuhan berkata “malam itu juga”. Ada urgensi. Ada bahaya nyata. Keterlambatan satu menit saja bisa berakibat fatal bagi nyawa Yesus.
Namun ketika waktunya kembali ke tanah Israel (Matius 2:20), Alkitab tidak mencatat adanya desakan waktu. Tidak ada kata “malam itu juga”. Tidak ada kepanikan. Yusuf bangun, mengambil Anak itu serta Ibu-Nya, lalu pergi ke tanah Israel dengan tenang.
Dari sini kita belajar satu prinsip rohani yang penting:
Tidak semua perintah Tuhan bersifat mendesak.
Ada saatnya Tuhan berkata, “Sekarang juga, jangan tunda.”
Namun ada banyak saat di mana Tuhan memberi ruang untuk kita mempersiapkan diri.
Jika hidup rohani seseorang selalu dipenuhi rasa “harus sekarang”, “harus cepat”, “harus segera”, tanpa ruang untuk proses, sering kali itu bukan tanda kedewasaan rohani, melainkan kegabahan. Tuhan tidak memanggil kita hidup impulsif, tetapi hidup peka.
Yusuf sudah menetap di Mesir. Yusuf membangun kehidupan di sana. Maka ketika Tuhan memanggilnya kembali, Tuhan tidak menuntutnya pergi secara tergesa-gesa. Ada waktu untuk membereskan, menutup dengan baik dan melangkah dengan terhormat. Karena dalam rencana Tuhan, keluar masuk kita diberkati.
Bandingkan kata “menyingkir” ke Mesir dengan kata “pergi” ke tanah Israel.
Menyingkir menggambarkan pelarian. Pergi menggambarkan ketenangan.
Tuhan tahu kapan kita harus lari dan kapan kita harus berjalan dengan damai.
Namun ada satu peringatan penting:
Tuhan memberi waktu untuk mempersiapkan, tetapi keterlambatan tidak boleh berasal dari ketidaktaatan kita.
Dalam hidup ini sudah cukup banyak keterlambatan yang tidak bisa kita kendalikan. Jangan menambah keterlambatan itu dengan keraguan, gengsi, atau sikap menunda pertobatan.
Jika kita jatuh, bangkitlah cepat.
Jika hati menjadi pahit, ampuni segera.
Jika salah langkah, kembali tanpa menunggu waktu “yang pas”.
Alkitab memberi contoh lain lewat kisah Filipus dan sida-sida Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40). Pertemuan ilahi itu terjadi tepat waktu. Sedikit saja terlambat, kesempatan itu hilang. Rencana Tuhan sering kali berjalan di atas ketepatan, bukan kesempurnaan.
Karena itu, komitmen kita sederhana:
Jangan sampai terlambatnya berasal dari kita.
Tuhan setia. Bahkan ketika kita sering “late”, Tuhan tetap sabar menunggu. Sampai hari ini kita masih ada, masih diberi kesempatan, masih dipeluk oleh kasih-Nya.
God is so good
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar