KASIH SEJATI BUKAN DIAM TAPI MENEGUR DENGAN KASIH
Berani Menegur dan Mengasihi - Ketika Kasih Lebih Besar dari Rasa Takut
Sering kali kita menghadapi dilema, apakah lebih baik disukai orang atau tetap benar? Banyak dari kita memilih diam, menahan diri dan mengalah demi diterima. Namun, ketika kita melakukan itu, yang sebenarnya kita kasihi bukanlah Tuhan, apalagi orang yang kita tegur, tetapi diri sendiri.
Ketika kasih pada diri sendiri lebih besar daripada kasih pada Tuhan dan sesama, kita berhenti bertumbuh. Kita mungkin rajin mendengar firman, mengikuti pembicara terbaik atau membaca banyak buku rohani, tetapi jika hati kita tetap berada di “halaman yang salah,” tidak ada pertumbuhan rohani sejati. Kita tidak bertobat dari dosa mencintai diri sendiri.
Injil bukan sekadar informasi atau ilmu, melainkan alat pertumbuhan rohani. Injil memberi kita dasar untuk hidup benar, membimbing kita agar berhenti hidup untuk diri sendiri dan mengarahkan kita untuk mengasihi dengan tindakan nyata, bahkan ketika itu sulit. Injil juga digambarkan sebagai alas kaki damai sejahtera, siap untuk memimpin kita dalam peperangan rohani.
Kasih yang sejati menuntut keberanian. Kita harus berani menegur, berani berdiri untuk kebenaran dan tidak kompromi meski takut atau malu. Setelah semua, memberitakan Injil seharusnya tidak membuat kita malu, karena itu adalah kabar baik yang membawa hidup.
Pesan penting :
- Kasih pada Tuhan dan sesama harus lebih besar daripada rasa takut atau malu
- Pertumbuhan rohani dimulai saat kita berhenti hidup untuk diri sendiri
- Injil adalah senjata dan alat untuk berjalan dalam kebenaran dan damai sejahtera
- Berani menegur dan mengasihi adalah bagian dari iman yang nyata
Tuhan Yesus memberkati
.png)
Komentar
Posting Komentar