PESAN TERAKHIR YESUS
Melangkah - Taat pada Firman dan Amanat Agung
Melangkah bukan sekadar bergerak secara fisik, tetapi sebuah tindakan iman. Melangkah berarti melakukan firman Tuhan, bukan hanya mendengarnya. Salah satu bentuk ketaatan yang paling jelas dan tidak bisa ditawar adalah Amanat Agung. Amanat ini bukan pilihan, bukan juga tugas bagi segelintir orang tertentu, melainkan panggilan bagi setiap orang percaya.
Dalam kehidupan manusia, kata-kata terakhir sering kali adalah kata yang paling penting. Saat seseorang berada di ambang kematian, ia tidak akan berbicara hal-hal sepele. Yang keluar dari mulutnya adalah isi hatinya yang paling dalam, yang paling sentral, yang paling bermakna. Prinsip yang sama berlaku ketika kita melihat kehidupan Yesus.
Yesus mati dan bangkit, dan setelah kebangkitan-Nya, Ia tidak mati lagi. Kata-kata terakhir-Nya sebelum naik ke surga bukanlah keluhan, bukan pula pesan pribadi yang samar. Di hadapan murid-murid-Nya, bahkan disaksikan oleh sekitar lima ratus pasang mata di Bukit Zaitun, Yesus mengucapkan satu perintah yang sangat jelas, “Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku.”
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Yesus sebelum Ia terangkat dan lenyap dari pandangan mereka. Sebuah perintah yang sederhana, tetapi sarat dengan bobot kekekalan. Pergi, beritakan Injil, selamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Amanat ini menunjukkan apa yang paling penting di hati Tuhan, yaitu manusia.
Yesus tidak berkata untuk menunggu, tidak meminta murid-murid-Nya untuk merasa cukup dengan iman pribadi. Ia berkata untuk pergi. Pergi berarti melangkah keluar dari zona nyaman, keluar dari ketakutan dan keluar dari sikap pasif. Pergi berarti mengambil risiko demi kabar baik, demi mereka yang belum mengenal keselamatan.
Melangkah dalam Amanat Agung adalah bukti bahwa iman kita hidup. Iman yang tidak bergerak akan menjadi iman yang mandek. Ketaatan tidak diukur dari seberapa banyak kita tahu tentang firman, tetapi sejauh mana kita mau melakukannya.
Hari ini, pesan terakhir Yesus itu masih sama. Dunia masih penuh dengan jiwa-jiwa yang terhilang. Pertanyaannya bukan apakah Amanat Agung masih relevan, tetapi apakah kita mau melangkah untuk melakukannya. Karena bagi Tuhan, satu jiwa sangat berharga, dan itulah yang Ia titipkan kepada kita sebelum Ia naik ke surga.
Tuhan Yesus memberkati
.png)
Komentar
Posting Komentar