PUNYA IMAN KECIL TAPI BERANI MELANGKAH
Iman yang Melangkah , Bukan Sekadar Bertumbuh di Tempat
Seharusnya Yoas (bapak Gideon) marah. Seharusnya ia membela berhala itu sampai mati, bahkan mungkin membiarkan anaknya sendiri dibunuh demi mempertahankan apa yang disembahnya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Yoas tiba-tiba sadar bahwa apa yang dihancurkan Gideon bukanlah Allah yang hidup. Sebab Allah yang hidup tidak bisa dibuat oleh tangan manusia. Allah yang hidup tidak membutuhkan pembelaan dengan kekerasan. Ia hanya bisa disembah dalam roh dan kebenaran.
Momen kesadaran itu menjadi titik balik. Bukan karena imannya sudah besar, tetapi karena kebenaran itu begitu jelas. Gideon sendiri bukanlah tokoh dengan iman yang besar. Ia kecil, penuh keraguan, dan merasa tidak layak. Namun satu hal yang membedakan Gideon dari banyak orang lain adalah ia melangkah. Ia taat meski imannya belum matang. Ia bergerak meski hatinya masih gemetar.
Sering kali di gereja, kita merasa iman kita bertambah besar. Tapi pertanyaannya, bertambah besar karena apa? Jangan-jangan iman kita seperti tubuh yang terus diberi makan, tetapi tidak pernah bergerak. Bukan protein yang membangun, melainkan karbohidrat yang menumpuk. Kita mendengar firman, makan firman, menikmati firman, tetapi tidak pernah melangkah untuk melakukan firman itu. Lama-lama yang terjadi bukan kekuatan, melainkan penumpukan.
Kita tidak pernah sungguh-sungguh menginjili. Bukan karena kita diminta pergi ke Afrika atau Eropa. Bukan. Yang paling dekat justru yang paling sering kita abaikan. Keluarga sendiri. Teman sendiri. Sahabat sendiri. Orang-orang yang setiap hari hidup di sekitar kita.
Bayangkan suatu hari, ketika seseorang benar-benar berakhir di neraka. Saat itu semua sudah selesai. Perhitungan dengan Tuhan ditutup. Buku kehidupan ditutup. Tidak ada lagi kesempatan. Orang-orang di neraka tidak kehilangan ingatan. Mereka sadar. Mereka merasakan sakit dan panas yang nyata. Dan mereka pasti mengingat orang-orang yang pernah duduk sebangku dengan mereka, yang pernah makan bersama mereka, yang pernah tertawa bersama mereka.
Di sana mungkin ada satu pertanyaan yang terus menggema di hati mereka, mengapa kamu tidak pernah memberitahu aku?
Namun sebaliknya, di surga akan ada momen yang sangat berbeda. Suatu hari, mungkin ada seseorang yang menjabat tanganmu dan berkata, “terima kasih.” Bukan orang asing. Bisa jadi dia sepupumu. Bisa jadi anggota keluargamu sendiri. Orang yang mengenalmu, yang hidup bersamamu dan yang akhirnya diselamatkan karena ketaatanmu untuk melangkah.
Jika semua yang kita lakukan di gereja hanyalah ritual agama, maka semuanya sia-sia. Tetapi jika kita benar-benar percaya akan hidup kekal, maka kita juga harus percaya bahwa manusia berdiri di hadapan dua jalan. Dan hanya satu jalan yang membawa keselamatan. Yesus saja. Tidak ada yang lain.
Iman yang sejati bukan iman yang hanya bertumbuh dalam bangku gereja, tetapi iman yang berani melangkah, bergerak, dan taat, meski imannya masih kecil.
Tuhan Yesus memberkati
.png)
Komentar
Posting Komentar