TAKUT YANG DIPIMPIN TUHAN


Ketika Rasa Takut Justru Menjadi Tuntunan Tuhan

(Refleksi Matius 2:22–23)

Matius 2:22–23 mencatat sebuah keputusan penting dalam hidup Yusuf. Setelah Herodes mati, Yusuf berniat kembali ke wilayah Yudea. Namun ketika ia mendengar bahwa Arkelaus anak Herodes menjadi raja di sana, Firman Tuhan berkata: “Ia takut ke sana.”

Ketakutan ini sering disalahpahami. Banyak orang mengira rasa takut selalu berasal dari roh yang salah. Padahal, dalam bagian ini, Tuhan tidak menegur Yusuf. Sebaliknya, ketakutan itu justru dikonfirmasi oleh Tuhan melalui mimpi. Artinya, rasa takut yang dialami Yusuf bukanlah roh ketakutan yang melumpuhkan, melainkan firasat dari Tuhan sebuah peringatan yang penuh hikmat.

Takut yang Dibutuhkan, Bukan Ditolak

Firman Tuhan mengajarkan bahwa permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Mazmur 111:10). Namun hikmat juga mengajarkan bahwa tidak semua rasa takut itu jahat. Ada rasa takut yang menjaga, menuntun dan menyelamatkan.

Takut melukai keluarga membuat seseorang belajar membawa diri.
Takut mempermalukan Tuhan membuat seseorang bekerja dengan integritas.
Takut gagal membuat seseorang mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Rasa takut seperti ini tidak menjauhkan kita dari Tuhan, justru membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Takut yang benar akan membuat kita berkata, “Tuhan, aku tidak mau berjalan dengan kekuatanku sendiri. Tolong tuntun aku.”

Iman Tidak Sama dengan Nekad

Yusuf adalah orang beriman. Yusuf dipilih Tuhan, berasal dari keturunan Daud dan dipercaya mengasuh Sang Juruselamat. Namun imannya tidak membuatnya nekat. Ketika Yusuf merasakan bahaya, Yusuf rendah hati untuk menghindarinya.

Iman sejati tidak menyangkal hukum alami. Iman tidak selalu berarti menerjang semua pintu yang tertutup. Justru sering kali, iman berarti taat untuk mencari rute lain ketika Tuhan tidak memberi lampu hijau.

Tidak semua pintu tertutup harus ditendang.
Tidak semua tantangan harus dilawan.
Kadang-kadang, kehendak Tuhan dinyatakan melalui pengalihan arah.

Pengalihan Rute yang Menggenapi Nubuat

Keputusan Yusuf untuk tidak kembali ke Yudea membawanya ke Galilea, ke sebuah kota kecil bernama Nazaret. Tanpa disadari Yusuf, langkah ini justru menggenapi nubuat: bahwa Sang Mesias akan disebut orang Nazaret.

Apa yang tampak seperti mundur, ternyata adalah langkah maju dalam rencana Allah.
Apa yang tampak seperti menghindar, ternyata adalah ketaatan yang dalam.

Belajar Diam Saat Tuhan Tidak Memerintah

Banyak orang mengira iman selalu berarti bergerak, melawan dan menantang. Padahal iman juga berarti mampu diam ketika Tuhan tidak memerintahkan apa-apa. Seperti Israel yang mengelilingi Yerikho berhari-hari tanpa melihat apa pun terjadi, iman tetap memuji Tuhan meski tembok belum runtuh.

Iman bukan soal membuktikan keberanian, tetapi soal menunggu dengan ketaatan.

Rasa takut yang berasal dari Tuhan tidak akan memperbudak kita, melainkan membimbing kita. Ketika kita memilih rendah hati, mau mendengar dan tidak memaksakan kehendak sendiri, sering kali tanpa sadar kita sedang berjalan tepat di tengah rencana Allah.

Kadang Tuhan tidak berkata, “Terjang.”
Tapi berkata, “Belok.”
Dan justru di sanalah, kehendak-Nya digenapi dengan sempurna.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI