TUHAN SANGGUP MENGUBAH HATI


Ketika Iman Bekerja, Tuhan Membalikkan Hati yang Paling Keras

Salah satu hal yang sering mengejutkan dalam perjalanan iman adalah ketika seseorang melangkah dalam ketaatan, Tuhan sanggup membalikkan hati orang yang paling keras sekalipun. Bukan dengan debat, bukan dengan paksaan, tetapi melalui pekerjaan-Nya yang tenang dan penuh kuasa.

Kisah Gideon memperlihatkan hal ini dengan sangat jelas. Gideon meruntuhkan mezbah Baal, tindakan yang secara logika manusia sangat berbahaya. Wajar, orang-orang pasti marah. Apalagi mezbah itu bukan sembarang mezbah, itu dibangun, dijaga dan didukung oleh ayahnya sendiri yaitu Yoas. Secara posisi, Yoas adalah penggagas, penjaga, bahkan pendonor penyembahan Baal di lingkungannya.

Namun yang terjadi justru di luar dugaan.

Alih-alih marah dan membela Baal, Yoas berdiri membela anaknya. Ia berkata dengan tegas, jika Baal memang allah, biarlah Baal membela dirinya sendiri. Siapa pun yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi.

Ini sangat ironis. Orang yang selama ini menopang penyembahan berhala justru menjadi orang pertama yang mempertanyakannya. Seolah-olah pada saat mezbah itu runtuh, kesadarannya terbuka. Seolah-olah selama ini ia menyembah, tetapi hatinya sendiri tidak pernah benar-benar yakin bahwa Baal adalah allah.

Di sinilah kita melihat sesuatu yang dalam tentang hati manusia. Seseorang bisa menyembah apa saja baik itu tradisi, harta, jabatan, kekuasaan, bahkan sistem kepercayaan, tetapi jika ia belum berjumpa dengan Tuhan yang hidup, di dalam dirinya akan selalu ada kekosongan. Ada ruang hampa yang tidak bisa diisi oleh apa pun yang dunia tawarkan.

Harta tidak bisa mengisinya. Tahta tidak bisa menutupinya. Relasi, pasangan, atau pengakuan manusia tidak akan pernah cukup. Kekosongan itu tetap ada, karena ruang itu memang bukan diciptakan untuk dunia. Ruang itu berwujud Kristus.

Itulah sebabnya banyak orang terlihat religius, tetapi hatinya tetap kosong. Mereka melakukan ritual, mengikuti tradisi, bahkan membela keyakinan dengan keras, tetapi di dalamnya tidak ada kepastian, tidak ada damai. Begitu berhala itu runtuh, barulah kebenaran terungkap, hati itu sebenarnya sedang mencari Tuhan yang hidup.

Ketaatan Gideon tidak hanya meruntuhkan mezbah Baal, tetapi membuka mata ayahnya. Ketika iman dijalankan, Tuhan bekerja jauh melampaui apa yang kita bayangkan. Tuhan bukan hanya mengubahkan situasi, tetapi mengubahkan hati, bahkan hati yang selama ini tampak paling keras dan paling mustahil.

Ini menjadi pengingat bagi kita. Tugas kita bukan meyakinkan semua orang, apalagi memaksa. Tugas kita adalah taat. Ketika kita melangkah dalam iman, Tuhan sendiri yang akan bekerja. Dia sanggup menyentuh bagian terdalam manusia yang tidak bisa dijangkau oleh argumen apa pun.

Karena pada akhirnya, setiap hati manusia memiliki satu ruang kosong dan ruang itu hanya bisa diisi oleh Tuhan yang hidup.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI