YESUS PUN MENUNGGU
Kesabaran Tuhan dalam Waktu Alami
Matius 2:19 mencatat satu kalimat yang sering kita baca sekilas, namun menyimpan pelajaran rohani yang dalam: “Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir.” Frasa “setelah Herodes mati” bukan sekadar keterangan waktu. Di sana tersimpan pelajaran besar tentang kerendahan hati, kesabaran dan cara Allah bekerja melalui waktu alami.
Tuhan Berbicara dengan Jelas
Yusuf dikenal sebagai seorang yang peka terhadap suara Tuhan. Sama seperti Yusuf di Perjanjian Lama, ia menerima tuntunan Allah lewat mimpi, bukan mimpi yang samar, tetapi jelas dan terarah. Tuhan memerintahkan Yusuf untuk bangun, membawa Maria dan Yesus serta kembali ke tanah Israel karena ancaman telah berlalu.
Namun, perhatikan: perintah itu datang setelah Herodes mati. Bukan sebelumnya.
Yesus Menunggu Waktu Alami
Yesus adalah Anak Tunggal Allah. Seluruh rencana keselamatan dunia bergantung pada hidup-Nya. Tetapi Allah Bapa tidak memperlakukan Yesus secara “istimewa” menurut ukuran manusia. Bapa tidak mengirim malaikat untuk menyingkirkan Herodes lebih cepat. Bapa tidak memaksa keadaan agar proses terasa lebih singkat atau nyaman.
Yesus menunggu. Yesus bertumbuh di Mesir. Yesus menjalani hidup yang normal, sebagai anak kecil, sebagai manusia sepenuhnya. Ini mengajar kita satu hal penting yaitu pengurapan tidak membatalkan proses alami.
Tidak Ada Roh “Merasa Pantas”
Sering kali, ketika kita merasa dipanggil Tuhan, kita tanpa sadar menumbuhkan spirit of entitlement, merasa pantas diperlakukan khusus, dipercepat atau dibela dengan cara spektakuler. Padahal Yesus sendiri tidak menuntut itu.
Jika Yesus saja bersedia menunggu waktu Allah dan menghormati hukum alami dunia yang diciptakan Bapa-Nya, terlebih lagi kita. Kerendahan hati sejati terlihat dari kesediaan untuk berjalan dalam proses, bukan melompati tahapan.
Allah yang Sabar, Lebih Sabar dari Kita
Mengapa Allah membiarkan Herodes hidup sampai tua? Mengapa kejahatan tidak langsung dibalas? Karena Allah panjang sabar. Kesabaran-Nya sering kali justru menguji kesabaran kita.
Kita ingin keadilan instan. Tuhan mengerjakan pertobatan dan waktu ilahi. Kita ingin pembalasan cepat. Tuhan memilih memberi kesempatan.
Kisah Yunus, Samaria, bahkan Herodes di kemudian hari, menunjukkan bahwa Allah tidak tergesa-gesa menghukum. Tuhan setia dengan karakter-Nya, penuh kesabaran dan kasih, tanpa kehilangan kekudusan.
Tidak Semua Tembok Harus Dirobohkan
Ada kalanya Tuhan merobohkan tembok seperti Yerikho. Namun ada kalanya Tuhan justru mengubah rute dan mengajak kita berjalan ke jalan lain. Tidak setiap pintu tertutup harus didobrak.
Ketaatan bukan selalu tentang melawan, tetapi sering kali tentang menunggu.
Belajar Menghormati Waktu
Kesabaran bukan tanda kelemahan iman. Kesabaran adalah tanda kedewasaan rohani. Tuhan bekerja melalui waktu ilahi, tetapi hampir selalu menggunakan waktu alami.
Jika hari ini Tuhan terasa lambat, mungkin Tuhan sedang menumbuhkan karakter kita. Jika rute hidup terasa berputar, mungkin Tuhan sedang melindungi kita dari sesuatu yang belum sanggup kita hadapi.
Kiranya kita belajar memiliki hati yang tenang, rendah dan percaya, seperti Yusuf. Karena pada waktunya, setelah “Herodes” itu berlalu, Tuhan sendiri yang akan berkata: Bangunlah, waktunya melangkah.
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar