BUKAN MENGASIHI TAPI DIKASIHI
BUKAN MENGASIHI, TAPI DIKASIHI
Ada satu kesalahpahaman yang sangat umum dalam kehidupan rohani:
kita sering berpikir bahwa inti iman Kristen adalah mengasihi Tuhan.
Padahal Alkitab justru memulai dari arah yang berbeda.
Rasul Yohanes menulis 1 Yohanes, tetapi sangat dalam maknanya. Ayat ini terdapat dalam Surat 1 Yohanes 4:10–11:
“Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”
Dua ayat ini membongkar cara berpikir kita tentang kasih, pelayanan dan kehidupan Kristen secara keseluruhan.
Poin 1 - Kita Dikasihi, Bukan Karena Kita Layak
Yohanes membuka dengan kalimat yang sangat tegas:
“Inilah kasih itu, bukan kita…”
Kalimat ini menempatkan kita pada posisi yang benar.
Kasih tidak dimulai dari kita.
Kasih tidak bersumber dari usaha kita.
Kasih yang kita berikan kepada Tuhan, seberapa pun tulusnya, tidak pernah sebanding dengan kasih Tuhan kepada kita. Dibandingkan kasih Allah, kasih manusia hanyalah setetes air di tengah samudera.
Inilah sebabnya banyak orang kelelahan secara rohani. Kita berpikir bahwa kita harus terus mengasihi, terus memberi, terus melayani, tanpa pernah berhenti. Lama-lama muncul kelelahan, kekecewaan, bahkan kemarahan. Kita merasa mengasihi sendirian. Kita merasa seperti “bertepuk sebelah tangan”.
Masalahnya bukan pada mengasihi.
Masalahnya ada pada sumber kasih.
Jika sumber kita adalah kasih manusia, kita akan cepat habis. Tetapi jika sumber kita adalah kasih Tuhan, kita tidak akan pernah defisit. Kasih Tuhan tidak pernah kering.
Kebenaran ini sangat penting:
Tuhan mengasihi kita bukan karena kita layak.
Tuhan tidak mengasihi kita karena pelayanan kita.
Bukan karena persembahan kita.
Bukan karena latar belakang keluarga kita.
Jika kita jujur menilai diri sendiri, justru lebih banyak alasan untuk tidak mengasihi kita. Kita tidak konsisten. Kita sering jatuh. Pikiran kita tidak selalu bersih. Kesetiaan kita naik turun.
Namun kasih Tuhan tidak bergantung pada semua itu.
Tuhan mengasihi kita meskipun kita tidak layak.
Kebenaran ini membebaskan kita dari rasa bersalah yang palsu. Banyak orang berkata, “Aku belum layak berdoa”, “Aku belum layak melayani”, “Aku belum layak dibaptis”. Pertanyaannya: kapan kita akan layak?
Jawabannya sederhana: kita tidak akan pernah layak.
Justru kita dilayakkan oleh kasih Tuhan.
Poin 2 - Terima Kasih Dari Hati Adalah Reaksi yang Benar
Banyak orang mengalami kelelahan bukan karena terlalu sibuk, tetapi karena sumber hidupnya salah. Kita semua capek. Tetapi tidak semua orang burn out.
Orang yang terus memberi tanpa menerima kasih Tuhan akan frustrasi. Pelayanan berubah menjadi beban. Relasi berubah menjadi tuntutan. Kita mulai mencari pengakuan, penerimaan, dan afirmasi dari manusia.
Ketika manusia tidak memberi apa yang kita harapkan, kita kecewa.
Namun ketika kasih Tuhan menjadi sumber kita, kelelahan tidak menghancurkan kita. Justru di saat lelah, kasih Tuhan menyegarkan kembali jiwa kita.
Kasih ilahi (agape) adalah satu-satunya kasih yang benar-benar menyembuhkan. Tuhan memang sering mengirim penghiburan melalui manusia, tetapi kita tidak boleh menggantungkan harapan pada manusia itu. Kita harus percaya pada sumbernya, bukan pada alatnya.
Inilah rahasia ketekunan para rasul, nabi, dan hamba Tuhan sepanjang sejarah. Banyak dari mereka tidak melihat hasil langsung. Banyak yang tidak dihargai. Namun mereka tetap setia karena kekuatan mereka bukan dari respon manusia, melainkan dari kasih Tuhan.
Ketika kita sadar bahwa kita dikasihi, bukan sekadar “mengasihi”, hidup kita berubah. Kalimat “I am loved” menjadi kekuatan rohani yang luar biasa. Bukan “I love”, tetapi “I am loved”.
Orang yang tahu dirinya dikasihi Tuhan akan memiliki keberanian yang tidak biasa. Dia tidak mudah takut. Dia tidak mudah menyerah. Dia tidak hidup dalam ketergantungan emosional pada manusia.
Poin 3 - Apa Pun yang Kita Lakukan adalah Balasan Kasih-Nya
Ayat 11 berkata:
“Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”
Kata “haruslah” di sini sering disalahpahami sebagai tuntutan berat. Padahal ini bukan hukum Taurat, melainkan respon yang wajar.
Karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita, maka mengasihi sesama menjadi sesuatu yang alami. Bukan terpaksa. Bukan untuk membuktikan diri. Bukan untuk mencari balasan.
Orang yang benar-benar sadar dirinya diampuni akan hidup dengan hati yang penuh syukur. Syukur itu nyata dalam sikap hidupnya. Dia tidak mudah tersinggung. Tidak menuntut. Tidak perhitungan.
Yesus sendiri berkata bahwa orang yang banyak diampuni akan banyak mengasihi. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya tidak perlu diampuni biasanya sulit mengasihi.
Kasih yang kita berikan kepada sesama tidak pernah sebanding dengan kasih yang telah kita terima dari Tuhan. Karena itu, ketika Tuhan meminta kita mengampuni, mengasihi, atau memberi, sesungguhnya Dia tidak sedang merugikan kita. Dia sedang mengundang kita hidup dalam kebebasan.
Prinsip hidup orang percaya seharusnya sederhana:
Apa pun yang kita lakukan, kita lakukan sebagai balasan kasih Tuhan.
Bukan untuk pamrih.
Bukan untuk pujian.
Bukan untuk balasan manusia.
Setiap kebaikan, sekecil apa pun, dilakukan untuk Tuhan. Bahkan hal sederhana seperti menyapa orang yang kesepian atau memberi segelas air minum.
Kasih yang berasal dari Tuhan akan mengalir dengan sendirinya. Tidak dipaksakan. Tidak dibuat-buat. Tidak melelahkan.
Penutup
“Inilah kasih itu: bukan kita.”
Kalimat ini seharusnya menjadi fondasi iman kita.
Kita hidup bukan dari usaha mengasihi, tetapi dari kenyataan bahwa kita dikasihi.
Dari situlah lahir kekuatan.
Dari situlah lahir ketekunan.
Dari situlah lahir kasih yang tulus kepada sesama.
Bukan mengasihi,
tetapi dikasihi.
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar