DIMULAI DENGAN BERSATU


Apa yang Dimulai dengan Persatuan, Tuhan Akhiri dengan Kemenangan

Prinsip yang Sering Diremehkan

Ada satu prinsip rohani yang sederhana tetapi sangat menentukan arah hidup, pelayanan dan masa depan sebuah komunitas:
apa yang dimulai dengan persatuan yang benar, Tuhan sendiri yang akan mengakhirinya dengan kemenangan.

Banyak orang berpikir bahwa semua harus selalu diawali dengan suara Tuhan yang spektakuler, firman yang sangat jelas, atau tanda-tanda besar dari surga. Padahal Alkitab mencatat beberapa momen penting di mana sesuatu dimulai dari inisiatif manusia, lalu Tuhan menyertainya karena inisiatif itu lahir dari hati yang rindu akan Dia dan dijalani dalam persatuan.

Di sinilah banyak orang keliru memahami kehendak Tuhan. Mereka takut mengambil langkah, takut memulai, takut salah. Padahal Tuhan tidak memanggil umat-Nya untuk pasif, melainkan untuk peka, berani dan berjalan bersama.

 

Inisiatif Manusia yang Disertai Tuhan

Salah satu contoh paling jelas dicatat dalam 1 Samuel 14:6–7, kisah Yonatan dan bujang pembawa senjatanya.

Yang menarik, kisah ini tidak dimulai dengan kalimat “berfirmanlah Tuhan”. Tidak ada nubuatan panjang. Tidak ada arahan spektakuler. Yang ada adalah seorang manusia yang rindu pada Tuhan, lalu berbicara kepada manusia lain yang memiliki hati yang sama.

Yonatan berkata (1 Samuel 14:6),

“Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat itu. Mungkin Tuhan akan bertindak untuk kita.”

Kata mungkin di sini bukan keraguan, melainkan kerendahan hati. Yonatan tidak mengklaim Tuhan pasti melakukan apa yang ia mau. Tetapi ia percaya satu hal bahwa bagi Tuhan tidak sukar menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.

Respons pembawa senjatanya menjadi kunci ( (1 Samuel 14:7)

“Lakukanlah niat hatimu itu. Aku sepakat.”

Di situlah persatuan terjadi. Dua orang, satu hati, satu arah, satu kerinduan kepada Tuhan. Dan dari persatuan kecil itu, Tuhan memberi kemenangan besar.

 

Apakah Itu Benar-benar Inisiatif Manusia?

Di bagian lain Alkitab, kita diajarkan bahwa Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan. Karena itu kita tidak bisa berkata bahwa sesuatu itu murni 100% inisiatif manusia. Bahkan kerinduan untuk melakukan yang baik pun adalah buah pekerjaan Roh Kudus.

Secara alami, manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, egois, mementingkan diri sendiri. Jika seseorang bisa merindukan keselamatan orang lain, merindukan kebaikan, merindukan kekudusan, itu bukan dari daging, melainkan dari Roh.

Namun Tuhan juga tidak sedang bermain sandiwara. Ketika Yesus berkata,

“Mintalah, maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu,” (Yohanes 16:24)

Itu adalah undangan yang sungguh-sungguh.

Yesus tidak berkata, “Tunggu saja Aku yang minta.”
Ia berkata, “Kamu yang minta kepada Bapa dalam nama-Ku.”

Artinya, Tuhan benar-benar memberi tanggung jawab dan kehormatan kepada manusia untuk mengambil langkah. Kuncinya ada di tangan kita, asal permintaan itu benar, kudus, adil dan selaras dengan hati Tuhan.

 

Ketika Persatuan Bertemu dengan Permintaan yang Benar

Inisiatif yang benar akan menjadi sangat kuat ketika dijalani dalam persatuan.
Misalnya dalam keluarga, suami dan istri membangun mezbah bersama, berdoa bersama, dan sepakat meminta sesuatu yang baik untuk masa depan keluarga mereka.

Mungkin secara logika terlihat pas-pasan. Mungkin keuangan terasa ngos-ngosan. Tetapi ketika permintaan itu lahir dari kerinduan untuk membangun keluarga, bukan dari keserakahan, Tuhan bisa memberi kunci yang tidak pernah kita sangka.

Ini bukan ajaran kemakmuran. Ini bukan soal mengejar uang. Uang hanyalah ilustrasi paling sederhana. Intinya adalah ini:
inisiatif yang benar + persatuan yang benar = ruang bagi Tuhan untuk bekerja.

Apa yang dimulai dengan persatuan, Tuhan akhiri dengan kemenangan.

 

Peringatan Keras - Hindari Kesepakatan yang Salah

Namun di sinilah letak jebakan yang sangat berbahaya.
Tidak semua persatuan berasal dari Tuhan.

Ada yang disebut kesepakatan dosa dan kesetia-kawanan yang salah. Ini bukan hal kecil. Justru di sinilah banyak orang rohani jatuh, terutama ketika memasuki musim baru, tahun baru atau fase kemenangan.

Pelayanan jangan dijadikan politik.
Gereja jangan dijadikan geng.
Kelompok kecil jangan berubah menjadi kubu-kubuan.

Kemuliaan pelayanan bukan milik manusia.
Itu milik Tuhan sepenuhnya.

Karena itu, berhati-hatilah dengan:

- sumpah setia yang mematikan hikmat,

- rahasia yang memaksa orang untuk diam sebelum tahu kebenarannya,

- dan “solidaritas” yang sebenarnya menutupi dosa.

Roh Kudus sendiri berkata, “Ujilah segala roh.”

1 Yohanes 4:1 (Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia).

Jika Roh Kudus saja mau diuji, mengapa kita mau tunduk pada tekanan manusia tanpa pengujian?

 

Menara Babel - Kuasa Persatuan yang Salah

Kejadian 11:6–7 mencatat satu peristiwa yang sangat serius, Menara Babel.
Di sana Tuhan sendiri berkata bahwa bangsa itu satu, bahasanya satu, bukan soal bahasa lisan, tetapi sehati dan sevisi.

Tuhan berkata bahwa apa pun yang mereka rencanakan akan terlaksana.
Ini menunjukkan satu hal yang sangat penting:
persatuan bahkan yang salah memiliki kuasa yang nyata.

Tuhan menghentikan mereka bukan karena takut, melainkan karena kasih. Jika persatuan yang salah itu dibiarkan, manusia akan binasa. Karena itu Tuhan mengacaukan bahasa mereka, memecah mereka, demi menyelamatkan umat manusia.

Dari sini kita belajar dua hal besar:

1. Kuasa persatuan itu nyata dan dahsyat.

2. Persatuan yang salah membawa kehancuran, bukan kehidupan.

 

Penampian dan Bahaya Self-Pity

Setiap musim persatuan akan diikuti oleh penampian.
Tidak semua orang mau bersatu dengan cara Tuhan. Tidak semua orang mau dimurnikan.

Salah satu roh paling berbahaya adalah self-pity yakni roh mengasihani diri sendiri. Ini sering terlihat rohani, terdengar lembut, tetapi sangat merusak. Self-pity adalah tiruan Roh Kudus. Ia membuat orang merasa sebagai korban, lalu membenarkan kepahitan, gosip dan perpecahan.

Orang yang kena tampi biasanya terlihat dari sikapnya:

- mudah kecewa,

- merasa paling benar,

- merasa semua gereja sama,

- dan enggan diproses.

Proses pemuridan selalu dimulai dari bawah.
Jika seseorang menolak proses, tetapi mencari posisi, itu tanda bahaya, baik bagi orang itu maupun gereja yang memanjakannya.

 

Sikap yang Benar di Tengah Penampian

Ketika kita melihat orang lain jatuh atau ditampi, kita tidak dipanggil untuk menghakimi atau bergosip. Kita dipanggil untuk berjaga dan memurnikan diri.

Jangan duduk bersama orang yang suka menyebar kepahitan.
Jangan membenarkan dosa atas nama solidaritas.
Jika sesuatu salah, salah tetap salah.

Kadang cara terbaik adalah lari, bukan karena takut, tetapi karena bijaksana. Tidak semua godaan bersifat seksual. Banyak godaan berbentuk percakapan, simpati palsu, dan empati yang tidak kudus.

 

Pilih Persatuan yang Benar

Persatuan adalah kunci besar dalam rencana Tuhan.
Tetapi hanya persatuan yang benar yang membawa kemenangan.

Mari kita memilih untuk:

- bersatu tanpa dosa,

- setia tanpa menutup kebenaran,

- dan berjalan bersama tanpa mencuri kemuliaan Tuhan.

Apa yang kita mulai dengan persatuan yang benar,
Tuhan sendiri yang akan mengakhirinya dengan kemenangan.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI