DIPILIH TETAP RENDAH HATI
Dipilih Tuhan, Tapi Tetap Rendah Hati
Belajar dari respons Maria saat dipuji surga
Dalam Lukas 1:29, kita membaca satu kalimat yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam maknanya:
“Maria terkejut mendengar perkataan itu lalu bertanya di dalam hatinya, ‘Apakah arti salam itu?’”
Reaksi ini kelihatannya sepele, tetapi justru di sinilah kita melihat karakter Maria yang sesungguhnya. Maria tidak langsung besar kepala. Maria tidak merasa pantas. Maria tidak menganggap pujian itu sebagai hak. Sebaliknya, Maria berhenti sejenak dan bertanya di dalam hatinya: “Apa maksud Tuhan?”
Kerendahan hati yang sejati
Maria adalah gambaran seseorang yang benar-benar rendah hati. Maria bukan tipe orang yang merasa entitled, merasa berhak atas berkat. Padahal yang memujinya bukan manusia biasa, melainkan malaikat Allah. Bayangkan jika pujian seperti itu datang kepada kita, pujian dari surga, pengakuan ilahi, deklarasi kasih karunia. Sangat mudah bagi manusia untuk mabuk rohani, merasa diri istimewa, bahkan merasa lebih tinggi dari orang lain.
Namun Maria tidak bereaksi seperti itu. Maria tidak memamerkan pujian itu. Maria tidak mengangkat dirinya sendiri. Maria justru merenung. Pertanyaannya bukanlah bentuk keraguan kepada Allah, melainkan tanda kedewasaan rohani. Maria tidak bertanya, “Mengapa Engkau memilih aku?” tetapi “Apa maksud-Mu, Tuhan?”
Inilah ciri orang yang rendah hati, fokusnya bukan pada dirinya, tetapi pada kehendak Allah.
Pujian bukan piala
Pelajaran penting bagi kita hari ini adalah jangan pernah menjadikan pujian sebagai piala. Pujian bahkan pujian rohani, bisa menjadi jebakan yang sangat halus. Ketika orang lain memuji kita, apalagi dalam konteks pelayanan, iman atau karakter, godaan untuk mengangkat diri sendiri selalu ada.
Maria mengajarkan kepada kita bahwa pujian bukanlah sesuatu untuk dikoleksi, tetapi sesuatu untuk diproses. Maria tidak menolak pujian itu, tetapi Maria juga tidak mengklaimnya sebagai identitas dirinya. Maria membiarkan pujian itu membawa dia lebih dekat pada pengertian akan rencana Allah.
Kasih karunia yang belum tentu langsung dimengerti
Di Lukas 1:30, malaikat berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.”
Kasih karunia ini bukan kasih karunia yang langsung terasa manis. Ini adalah kasih karunia yang membingungkan, menegangkan, bahkan berisiko besar.
Maria tentu gemetar. Maria tahu bahwa apa yang akan disampaikan malaikat bukan hal kecil. Ini bukan sesuatu yang bisa ia pahami dalam satu malam. Tetapi malaikat menegaskan satu hal penting: ini adalah kasih karunia Allah.
Ada banyak bentuk kasih karunia Tuhan yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian. Di awal, kasih karunia sering datang dalam bentuk ketidakpastian. Tetapi iman mengajarkan kita untuk percaya lebih dulu, bahkan sebelum kita mengerti sepenuhnya.
Diam adalah bentuk iman
Ketika malaikat menyampaikan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak bernama Yesus, Maria tidak memotong pembicaraan. Maria tidak menyela. Maria tidak langsung memprotes. Maria mendengar.
Ini pelajaran penting bagi kita, ketika Tuhan berbicara, jangan terburu-buru menyela. Ada waktu di mana respons paling rohani bukan berbicara, melainkan diam. Diam untuk mencerna. Diam untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Diam sampai kita memahami isi hati-Nya.
Banyak orang gagal menangkap kehendak Tuhan bukan karena Tuhan tidak berbicara, tetapi karena mereka terlalu cepat bereaksi.
Mengenal pribadi sebelum memahami rencana
Maria akhirnya menjalani proses panjang untuk memahami rencana Allah. Bahkan sampai Yesus disalibkan, Maria masih merenungkan banyak hal di dalam hatinya. Namun satu hal yang membuatnya bertahan adalah Maria mengenal pribadi Allah.
Iman Kristen bukan terutama tentang apa yang kita ketahui, melainkan siapa yang kita kenal. Pengetahuan bisa membuat orang sombong, tetapi pengenalan akan Allah melahirkan kerendahan hati dan kepercayaan.
Maria mungkin tidak memahami seluruh rencana Tuhan, tetapi ia percaya pada karakter Tuhan. Dan itu cukup untuk melangkah dengan iman.
Tuhan yang bertanggung jawab
Salam malaikat kepada Maria penuh dengan peneguhan:
Tuhan akan memberimu sesuatu dan Tuhan akan menyertaimu di dalamnya.
Ini menunjukkan satu sifat Allah yang indah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian dalam panggilan-Nya. Tuhan tidak hanya memberi tugas, tetapi juga menyertai prosesnya. Tuhan memahami ketakutan kita dan Tuhan tidak pernah meremehkan pergumulan kita.
Maria dipilih Tuhan, tetapi tetap rendah hati. Maria dipuji surga, tetapi hatinya tetap tertunduk. Maria menerima kasih karunia besar, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk meninggikan diri.
Kiranya kita belajar dari Maria:
ketika Tuhan meninggikan kita, tetaplah rendah hati.
ketika Tuhan berbicara, belajarlah diam dan mendengar.
dan ketika kita belum mengerti rencana-Nya, percayalah pada karakter-Nya.
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar