DO YOU LOVE ME ?


DO YOU LOVE ME ?

(Refleksi Renungan Yohanes 21 : 15)


Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak ditujukan untuk dijawab cepat. Bukan karena sulit, tetapi karena terlalu dalam. Pertanyaan seperti itu tidak menguji pengetahuan, melainkan kejujuran hati. Salah satu pertanyaan itu pernah Yesus ajukan kepada Simon Petrus:
“Apakah engkau mengasihi Aku?”

Yesus tidak bertanya karena Ia ragu akan kasih-Nya kepada Petrus. Kasih itu sudah jelas. Kasih itu sudah dibuktikan. Tetapi pertanyaan ini bukan tentang Yesus. Pertanyaan ini tentang manusia, tentang bagaimana hati manusia merespons kasih Tuhan.

 

Pertanyaan yang Dibandingkan

Yesus tidak bertanya secara netral. Ia menambahkan satu kalimat yang membuat pertanyaan itu semakin berat:
“Lebih daripada mereka ini?”

Yang dimaksud Yesus bukan satu orang. Bukan perbandingan kecil. Kasih Petrus dibandingkan dengan kasih sepuluh murid lainnya yang digabungkan menjadi satu. Seolah Yesus berkata, apakah kasihmu kepada-Ku sungguh melebihi semuanya itu?

Di titik ini, Petrus gemetar. Bukan karena ia tidak mengasihi Yesus, tetapi karena ia tahu kelakuannya tidak mencerminkan cintanya. Beberapa waktu sebelumnya, Petrus menyangkal. Ia mundur. Ia jatuh. Dan ia sadar penuh akan kegagalannya sendiri.

Namun Yesus tahu satu hal yang tidak semua orang tahu. Petrus bukan orang yang berubah hati. Ia tidak jahat. Ia hanya khilaf di satu momen terlemahnya.

 

Tuhan Mengenal Hati Petrus

Yesus sangat mengenal murid-murid-Nya. Ia tahu siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Dia. Bahkan di antara dua belas murid, sebelum Yudas pergi, Yesus tahu bahwa Petrus adalah orang yang paling mengasihi-Nya.

Petrus memang impulsif. Kadang terlalu berani bicara. Kadang terlalu cepat bertindak. Tetapi hatinya tulus. Ketika murid lain lari, Petrus pernah berkata, “Kalau semua meninggalkan Engkau, aku tidak.” Walaupun akhirnya ia jatuh, hatinya tidak berubah.

Karena itu, ketika Yesus bertanya, “Do you love Me?” di dalam hati Petrus seolah berkata, “Habis aku.” Bukan karena ia tidak mengasihi Yesus, tetapi karena ia tahu pertanyaan itu menuntut kejujuran penuh.

 

Kasih yang Ditanyakan - Agape

Yesus tidak memakai kata kasih persahabatan. Ia tidak bertanya tentang kasih yang nyaman. Ia bertanya dengan kasih agape, kasih yang rela memberikan segalanya, bahkan nyawa.

Pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah kamu menyukai Aku?”
Tetapi, “Apakah kamu mencintai Aku sampai titik rela kehilangan segalanya?”

Petrus tahu dirinya belum sampai di sana. Dalam sejarah, kita tahu Petrus akhirnya mati disalib terbalik. Tetapi pada saat itu, ia belum sanggup berkata besar. Maka ia tidak menjawab dengan janji. Ia hanya meletakkan hatinya di hadapan Yesus.

“Engkau tahu.”

Seolah ia berkata, aku mengasihi-Mu dengan kasih manusia yang cacat. Aku tidak layak. Aku tidak sempurna. Tapi Engkau tahu hatiku.

 

Kasih dengan Nada “Maaf”

Jawaban Petrus bukan jawaban yang indah. Tidak berbunga-bunga. Tidak penuh teologi. Jawabannya sederhana dan jujur. Kasih yang datang bersama kata “maaf”.

Kasih seperti ini sering kita lihat pada anak-anak ketika memberi sesuatu yang kecil kepada orang tuanya. “Tuhan, cuma ini.” Bukan karena tidak mau memberi lebih, tetapi karena memang tidak punya banyak. Kasih yang sadar diri. Kasih yang rendah hati.

Petrus seperti berkata, “Maaf Tuhan, aku mengasihi-Mu, tapi tidak di level-Mu.”

Dan yang mengejutkan, Yesus menerima jawaban itu.

 

Dari Kasih ke Tanggung Jawab

Yesus tidak menertawakan Petrus. Ia tidak berkata, “Kasihmu kurang.” Sebaliknya, Ia langsung memberi tugas:
“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Jika engkau mengasihi Aku, rawatlah mereka yang Aku kasihi.
Jika engkau mencintai Aku, pedulilah kepada manusia.
Kasih kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama.

Di sini terlihat prinsip penting, kasih yang sejati selalu berujung pada tanggung jawab. Loving God tidak pernah berhenti pada perasaan. Ia bergerak menjadi tindakan.

 

Surat Wasiat Yesus

Kalimat “Gembalakanlah domba-domba-Ku” bukan kalimat biasa. Itu bisa disebut sebagai surat wasiat Yesus. Tak lama setelah itu, Yesus naik ke surga. Keempat Injil menutup kisah Yesus dengan amanat terakhir-Nya.

Matius menutup dengan: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.”
Markus berbicara tentang pemberitaan Injil.
Lukas menekankan pengampunan dan kuasa Allah yang menyertai.
Yohanes menutup dengan satu pesan sederhana namun dalam: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Jika ingin tahu apa yang paling penting di hati seseorang, dengarkan kata-kata terakhirnya. Dan di akhir pelayanan-Nya, Yesus berbicara tentang jiwa-jiwa.

 

Dua Dimensi Penggembalaan

“Gembalakanlah domba-domba-Ku” memiliki dua dimensi.
Pertama, domba yang sudah ada—yang sudah berada di dalam kawanan.
Kedua, domba yang belum ada—yang masih tersesat, hilang dan belum pulang.

Kasih kepada Tuhan tidak berhenti pada membangun kenyamanan. Ia bergerak keluar. Ia mencari yang hilang. Ia peduli pada yang terluka. Gereja tidak dipanggil untuk sekadar menjadi megah, tetapi menjadi fungsional. Menjadi rumah. Menjadi tempat air hidup terus mengalir.

 

Pertanyaan Itu Masih Sama

Sampai hari ini, pertanyaan Yesus tidak berubah.
Bukan, “Apakah kamu hebat?”
Bukan, “Apakah kamu sempurna?”
Tetapi, “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Bukan tentang siapa yang paling dikasihi Tuhan.
Tetapi tentang siapa yang sungguh mengasihi Tuhan.

Dan dari kasih itulah, lahir panggilan untuk mengasihi manusia.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI