KENALI PRIBADI-NYA BUKAN TAKUT RENCANA-NYA


Salam yang Mendahului Rencana
 - Belajar Mengenal Hati Tuhan dari Maria

Dalam Lukas 1:28, kita membaca sebuah kalimat yang kelihatannya sederhana, tetapi menyimpan kedalaman rohani yang luar biasa:

“Salam, hai engkau yang dikaruniai Tuhan, Tuhan menyertai engkau.”

Kalimat ini diucapkan oleh malaikat yang diutus Allah, Gabriel, ketika ia masuk ke rumah seorang gadis muda bernama Maria. Yang menarik, sebelum malaikat itu menjelaskan rencana besar Allah atas hidup Maria, ia memulai dengan salam.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah cara Allah bekerja.

 

Tuhan Selalu Memulai dengan Damai, Bukan Tuntutan

Kata “salam” yang digunakan malaikat adalah shalom. Banyak orang Kristen terbiasa mengucapkan kata ini, baik secara langsung maupun lewat pesan singkat. Namun sering kali kita lupa makna terdalamnya.

Shalom bukan sekadar “halo” atau “apa kabar”.
Shalom berarti tidak ada yang hilang dan tidak ada yang hancur (nothing missing, nothing broken).

Mengikut Tuhan tidak berarti hidup tanpa masalah. Namun artinya, pada akhirnya tidak ada satu pun bagian hidup kita yang hilang atau patah di luar rencana Allah. Jika ada yang terasa hilang, Tuhan sanggup memulihkan. Jika ada yang terasa rusak, Tuhan sanggup memperbaiki.

Karena itulah malaikat Gabriel sangat berhikmat. Ia tahu, bahkan sebelum pesan besar itu disampaikan, Maria perlu ditenangkan lebih dulu. Ketemu malaikat saja sudah cukup membuat seseorang syok, apalagi seorang remaja yang hidupnya sederhana dan belum tahu banyak tentang dunia.

 

Tuhan Menenangkan Sebelum Menjelaskan

Maria hidup di masa di mana menikah di usia muda adalah hal biasa. Maria masih polos, belum berpengalaman dan tiba-tiba berhadapan dengan utusan surga. Tapi malaikat itu tidak langsung berkata, “Ini rencana Tuhan atasmu.”

Sebaliknya, ia berkata:
“Tenang. Tuhan menyertai engkau.”

Ini menunjukkan satu hal penting:
Tuhan tidak pernah menikmati membuat anak-Nya ketakutan.

Allah tahu bahwa berita yang akan Maria terima sangat berat. Seorang perawan akan mengandung. Di mata manusia, ini bukan kabar sukacita, tetapi bencana. Resiko kehilangan Yusuf, resiko ditolak keluarga, bahkan resiko hukuman mati menurut hukum Taurat.

Namun sebelum semua itu dijelaskan, Tuhan memastikan satu hal lebih dulu:
karakter-Nya.

Allah seolah berkata, “Kenalilah Aku dulu. Aku tidak jahat. Aku tidak merusak hidup orang.”

 

Kenal Pribadi-Nya Lebih Dulu, Baru Rencana-Nya

Inilah pelajaran rohani yang sangat penting bagi kita hari ini.

Dalam hidup Kristen, yang paling penting bukan seberapa banyak yang kita tahu, tetapi siapa yang kita kenal.
Bukan what you know, tapi whom you know.

Orang-orang Farisi pada zaman Yesus tahu banyak tentang hukum Taurat, tetapi mereka tidak mengenal hati Allah. Pengetahuan mereka tidak membuat mereka taat, justru membuat mereka sombong.

Sebaliknya, orang yang sungguh mengenal Tuhan akan lebih mudah taat, bahkan ketika belum mengerti rencana-Nya sepenuhnya.

Maria tidak langsung paham. Bahkan sampai Yesus disalib, hatinya masih memproses semua yang terjadi. Tetapi karena ia mengenal karakter Allah, ia bisa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan.” (Lukas 1:38)

 

Tuhan Tidak Pernah Menyuruh yang Salah

Penting untuk ditegaskan:
Tuhan tidak pernah menyuruh seseorang melakukan dosa.
Tuhan tidak pernah memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan firman-Nya.

Kadang perintah Tuhan terasa tidak masuk akal, tapi tidak pernah jahat.

Ketika kita mengenal karakter Tuhan, bahwa Tuhan setia, baik dan bertanggung jawab, maka ketidakpastian tidak lagi menjadi ancaman. Ketidaktahuan tidak lagi menakutkah dan berubah menjadi petualangan iman bersama Pribadi yang bisa dipercaya.

Yesus - Bayi yang Adalah Allah

Maria melahirkan Yesus, tetapi Yesus bukan ciptaan Maria.
Yesus adalah Tuhan.

Firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Tuhan, termasuk Maria dan Yusuf. Bayi yang suatu hari dicubit pipinya oleh orang-orang di bait suci adalah Pencipta langit dan bumi. (Lukas 2:25-40)

Maria baru memahami sepenuhnya siapa Anak yang ia lahirkan setelah kebangkitan Yesus. Proses pengenalan itu bertahap. Tetapi sejak awal, Tuhan sudah memberi jaminan:
“Tuhan menyertai engkau.”

 

Allah yang Bertanggung Jawab atas Hidup Kita

Dari kisah ini, kita melihat karakter Allah yang luar biasa indah:
Allah yang memberi rasa aman sebelum menuntut ketaatan.
Allah yang menenangkan sebelum mengarahkan.
Allah yang menyertai setiap langkah yang Tuhan minta kita ambil.

Jika hari ini Tuhan sedang membawa kita ke sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak kita duga, pelajaran dari Maria tetap sama:
Kenali Tuhan terlebih dahulu.

Karena ketika kita mengenal Tuhan, kita akan tahu satu hal ini dengan pasti:
Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam rencana-Nya.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI