LAKUKAN DENGAN SEMPURNA
LAKUKAN DENGAN SEMPURNA
(Referensi Firman: Keluaran 39:32)
Sebuah Ketaatan yang Tidak Setengah-setengah
Keluaran 39:32 mencatat sebuah kalimat yang sangat sederhana, tetapi penuh bobot:
“Demikianlah diselesaikan segala pekerjaan melengkapi Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu. Orang Israel telah melakukannya tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa.”
Kalimat ini tidak berbicara tentang emosi, perasaan atau perjuangan batin. Alkitab tidak mencatat drama. Yang dicatat hanyalah satu hal yaitu ketaatan yang tuntas dan tepat.
Frasa “tepat seperti yang diperintahkan” bahkan diulang-ulang sepanjang pasal ini. Seolah-olah Tuhan ingin kita berhenti, membaca ulang, dan menyadari bahwa ketaatan bukan sekadar dilakukan, tetapi dilakukan dengan sempurna, bukan sempurna versi manusia, melainkan sempurna menurut kehendak Tuhan.
1. “Tepat Seperti yang Diperintahkan” - Bukan Hampir Benar
Sering kali kita merasa sudah taat, padahal yang kita lakukan baru hampir benar. Kita mengikuti garis besarnya, tetapi mengubah detailnya. Kita menuruti perintahnya, tetapi menyesuaikan caranya.
Orang Israel tidak melakukan itu. Mereka membangun Kemah Suci persis seperti yang Tuhan perintahkan kepada Musa. Tidak ditambah, tidak dikurangi, tidak dimodifikasi agar lebih praktis atau lebih nyaman.
Di sinilah kita belajar bahwa ketaatan sejati bukan soal niat baik, tetapi soal ketepatan. Tuhan tidak berkata, “Yang penting hatimu baik.” Tuhan melihat apakah hati itu benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan yang sesuai dengan kehendak-Nya.
2. Tidak Salah Menjadi “Yes Man” kepada Tuhan
Di dunia sekarang, menjadi “yes man” sering dianggap lemah. Dunia mengajarkan kita untuk selalu mempertanyakan, mencurigai dan menyisakan ruang untuk ragu. Semua hal harus diuji, dipertanyakan dan ditimbang berkali-kali.
Namun anehnya, sikap ini sering terbawa ke dalam relasi kita dengan Tuhan.
Padahal, tidak ada yang salah dengan berkata “ya” kepada Tuhan.
“Yes, Tuhan.”
Tanpa tawar-menawar.
Tanpa jalur alternatif.
Orang Israel berkata “ya” bukan karena mereka bodoh, tetapi karena mereka percaya. Dan kepercayaan inilah yang melahirkan ketaatan yang sempurna.
3. Curiga - Dosa Pertama yang Sering Diulang
Jika ditarik ke awal sejarah manusia, dosa pertama bukan sekadar memakan buah terlarang. Akar terdalamnya adalah kecurigaan terhadap Tuhan.
Adam dan Hawa mulai hidup dalam “jangan-jangan”:
- Jangan-jangan Tuhan menahan sesuatu yang baik.
- Jangan-jangan perintah Tuhan tidak sepenuhnya benar.
- Jangan-jangan ada jalan yang lebih baik dari yang Tuhan katakan.
Sejak itu, manusia terbiasa hidup di wilayah abu-abu. Tidak sepenuhnya taat, tetapi juga tidak terang-terangan memberontak. Masalahnya, wilayah abu-abu ini membuat ketaatan selalu pincang.
Kecurigaan ini tidak berhenti di Taman Eden. Ia muncul dalam pernikahan, dalam relasi dengan pemimpin rohani, bahkan dalam kehidupan bergereja. Tidak heran banyak orang sulit mengikut Tuhan dengan utuh, karena hati mereka masih dipenuhi pola pikir Adam dan Hawa, bukan Kristus.
4. Musa - Ketaatan Tanpa Jalur Alternatif
Keluaran 39:32 menunjukkan satu hal penting: Musa tidak hidup dalam kecurigaan. Ia tidak mencari jalan lain. Ia tidak memodifikasi perintah Tuhan.
Musa melakukan tepat seperti yang diperintahkan.
Hal yang sama kita lihat pada tokoh-tokoh lain seperti Nuh. Mereka tidak selalu mengerti sepenuhnya, tetapi mereka memilih percaya. Dan kepercayaan itu membuat ketaatan mereka tidak bercabang.
Kita tidak bisa mengikut Tuhan dengan baik jika hati kita selalu curiga. Relasi apa pun tidak akan bertahan jika dibangun di atas prasangka. Pernikahan tidak akan sehat jika setiap langkah dipenuhi kecurigaan. Demikian juga relasi dengan Tuhan.
5. Taat di Luar, Memberontak di Dalam
Salah satu bentuk ketaatan yang paling berbahaya adalah ketaatan yang hanya di permukaan. Secara luar terlihat patuh, tetapi di dalam hati masih menolak.
Contohnya:
- Tidak bercerai, tetapi menolak memulihkan relasi.
- Tetap menikah, tetapi hidup terpisah secara hati dan tanggung jawab.
- Mengaku taat, tetapi hanya mengambil bagian yang nyaman.
Apakah ini ketaatan yang sempurna?
Atau hanya ketaatan setengah hati?
Taat dengan sempurna berarti ketaatan yang bekerja dari dalam ke luar. Tuhan bukan hanya melihat tindakan, tetapi hati yang menangkap maksud-Nya.
6. Mengenal Isi Hati Tuhan
Mengapa banyak orang sulit taat sepenuhnya? Karena mereka tidak sungguh-sungguh mengenal isi hati Tuhan. Kita bisa menaati aturan tanpa mengenal Pribadi yang memberi perintah, tetapi hasilnya akan selalu kering.
Ketika Tuhan berkata Dia membenci perceraian, itu berarti Dia mengasihi persatuan. Ketika Tuhan memberi perintah, selalu ada hati Bapa di baliknya. Tanpa mengenal hati itu, ketaatan akan terasa berat dan penuh kompromi.
Melakukan dengan sempurna berarti menangkap maksud Tuhan, bukan sekadar menjalankan perintah-Nya.
7. Tidak Ada “Tapi” dalam Ketaatan
Setiap kali kita berkata, “Aku mau taat, tapi…”, di situlah ketaatan mulai bocor.
Tuhan tidak mencari ketaatan dengan catatan kaki. Dia tidak mencari kepatuhan yang penuh alasan. Dia mencari hati yang bersedia berkata, “Ya,” lalu melangkah.
Bukan berarti Tuhan tidak mengerti kelemahan manusia. Tetapi ada perbedaan besar antara tidak bisa taat dan tidak mau taat.
Melakukan dengan Sempurna
Melakukan dengan sempurna bukan berarti tidak pernah salah. Musa bukan manusia sempurna. Orang Israel juga bukan bangsa tanpa cela. Namun mereka memilih satu hal: tidak bermain aman, tidak menawar, dan tidak mengubah perintah Tuhan.
Keluaran 39:32 menutup semua itu dengan kalimat yang sederhana, tetapi kekal,
mereka telah melakukannya tepat seperti yang diperintahkan Tuhan.
Kiranya hidup kita pun dicatat dengan cara yang sama.
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar