ORANG BENAR TAPI KURANG BERIMAN


Orang Benar, Tapi Kurang Beriman

Belajar tentang kesetiaan Tuhan dalam kesunyian

Sunyi Tidak Pernah Kosong

Malam kudus sering digambarkan sebagai malam yang sunyi dan tenang. Tidak banyak suara. Tidak ada hiruk-pikuk. Bagi sebagian orang, suasana seperti ini terasa hampa. Bahkan tidak jarang kita menyimpulkan, “kalau hidup lagi sunyi begini, mungkin Tuhan sedang tidak bekerja.”

Padahal Alkitab justru berkali-kali menunjukkan sebaliknya. Kesunyian bukan tanda ketiadaan Tuhan. Kesunyian sering kali menjadi ruang di mana Tuhan bekerja dengan cara yang paling dalam, paling pribadi, dan paling membentuk iman.

Salah satu kisah yang menggambarkan hal ini dengan sangat jelas terdapat dalam Injil Lukas 1:5–25, melalui kehidupan Zakaria dan Elisabet.

 

Zakaria dan Elisabet - Orang Baik dengan Latar Belakang Rohani Kuat

Alkitab memperkenalkan Zakaria sebagai seorang imam dari rombongan Abia. Istrinya, Elisabet, juga berasal dari keturunan Harun. Keduanya bukan orang sembarangan. Mereka berasal dari suku Lewi, bahkan bisa dikatakan “double Lewi”. Dari sisi silsilah, pelayanan dan kehidupan rohani, mereka memiliki latar belakang yang sangat kuat.

Lukas mencatat dengan tegas bahwa Zakaria dan Elisabet adalah orang benar di hadapan Allah. Mereka hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Ini bukan pujian yang ringan. Alkitab jarang memberikan penilaian sejelas dan setegas ini tentang kehidupan seseorang.

Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung. Semua kelebihan itu, baik silsilah, pelayanan, kesalehan hidup, ternyata bukan jaminan bahwa iman seseorang selalu utuh dan hidup dalam setiap situasi.

 

Hidup Benar Tidak Sama dengan Hidup Beriman

Banyak orang Kristen tanpa sadar menjadikan “hidup baik” sebagai tujuan akhir. Selama tidak berbuat jahat, rajin ke gereja, melayani dan hidup bermoral, kita merasa semuanya sudah beres. Padahal Alkitab tidak pernah berhenti di situ.

Zakaria dan Elisabet adalah orang baik. Itu jelas. Namun kisah selanjutnya menunjukkan bahwa menjadi orang baik tidak otomatis berarti mempercayai Tuhan sepenuhnya dalam setiap perkara. Inilah perbedaan penting antara hidup benar dan hidup beriman.

Orang beriman pasti hidup baik, karena iman kepada Yesus menghasilkan buah Roh, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan dan penguasaan diri. Tetapi orang yang hidup baik belum tentu hidup dalam iman yang aktif. Bisa saja seseorang mengasihi Tuhan, tetapi masih menyimpan keraguan ketika berhadapan dengan kebutuhan, tantangan atau hal yang tidak bisa ia kendalikan.

 

Iman Bukan Warisan, Iman Adalah Keputusan

Salah satu penekanan penting dalam khotbah ini adalah iman tidak bisa diwariskan. Latar belakang rohani keluarga, seberapa lama seseorang bergereja atau seberapa aktif ia melayani, tidak otomatis membuat imannya hidup.

Iman selalu bersifat pribadi. Iman adalah keputusan yang harus diambil setiap orang, berulang kali, di dalam kehidupannya sendiri. Iman tidak bisa ditunda. Tidak bisa berkata, “Nanti saja aku percaya, kalau keadaannya sudah lebih jelas.” Justru iman dibutuhkan ketika keadaan belum jelas.

Iman itu sekarang.
Sekarang ketika kita mendengar suara Tuhan.
Sekarang ketika ada kebutuhan.
Sekarang ketika ada tantangan.

Menunda iman sama artinya dengan memilih untuk berjalan dengan kekuatan sendiri.

 

Kurang Iman Bukan Masalah Kecil

Dalam kisah Zakaria, kita melihat bagaimana ketidakpercayaan, meskipun datang dari seorang imam yang saleh, berujung pada konsekuensi serius. Ketika malaikat Gabriel menyampaikan firman Tuhan, Zakaria merespons dengan keraguan. Zakaria meminta kepastian tambahan dan akibatnya, ia dibuat bisu.

Ini bukan hukuman tanpa makna. Alkitab ingin menunjukkan bahwa kurangnya iman bukan sekadar kelemahan kecil. Kurang iman melukai relasi. Seperti dalam hubungan antarmanusia, ketidakpercayaan menciptakan jarak.

Bayangkan sebuah relasi yang sudah lama terjalin, tetapi di saat krusial justru muncul kecurigaan. Apa artinya itu? Artinya relasi tersebut tidak sedalam yang dibayangkan. Hal yang sama terjadi dalam relasi dengan Tuhan. Ketika kita tidak mempercayai Tuhan dalam area tertentu, sesungguhnya kita sedang berkata bahwa kita belum sungguh mengenal-Nya di area itu.

 

Iman yang Berhenti di Doktrin

Banyak orang mengenal Yesus secara doktrinal. Kita tahu siapa Yesus yaitu Juruselamat, Tuhan, Jalan Kebenaran dan Hidup. Secara teologis, kita berada di dasar yang benar. Namun iman tidak berhenti pada pengakuan doktrin.

Pertanyaannya bukan lagi, “Siapa Yesus?”
Pertanyaannya adalah, “Dalam hal apa aku sungguh mempercayai Yesus?”

Ada orang yang mengasihi Tuhan, tetapi ketika menghadapi masalah keuangan, ia lebih percaya perhitungannya sendiri. Ada yang setia beribadah, tetapi ketika menghadapi penderitaan, ia lebih mengandalkan kekuatannya sendiri. Inilah iman yang berhenti di fondasi, tetapi tidak berjalan lebih jauh.

Padahal Injil bukan hanya membawa kita menjadi anak Tuhan, tetapi membawa kita untuk terus bertumbuh dari iman kepada iman, seperti yang Paulus tuliskan dalam Roma 1:17 (TB)  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

 

Dari Iman kepada Iman - Proses Seumur Hidup

Iman adalah perjalanan. Setelah seseorang percaya kepada Kristus, perjalanan itu tidak berhenti. Justru di sanalah proses dimulai bagaimana belajar mempercayai Tuhan dalam segala perkara, baik maupun buruk.

Belajar beriman ketika doa belum terjawab.
Belajar beriman ketika hidup terasa sunyi.
Belajar beriman ketika penderitaan tidak bisa dihindari.

Tanpa iman, Alkitab dengan tegas berkata bahwa kita tidak mungkin menyenangkan Tuhan (Ibrani 11:6). Bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena relasi tanpa kepercayaan tidak mungkin menjadi relasi yang dekat.

 

Dekat dengan Tuhan Tidak Membuat Hidup Bebas Masalah

Ada ketakutan tersembunyi dalam hati banyak orang percaya: “Kalau aku terlalu dekat dengan Tuhan, hidupku akan makin berat.” Ketakutan ini sering kali tidak diucapkan, tetapi nyata. Takut kehilangan kenyamanan. Takut menderita. Takut disuruh melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun kenyataannya sederhana baik dekat atau tidak dekat dengan Tuhan, manusia tetap akan mengalami penderitaan. Bedanya, ketika seseorang dekat dengan Tuhan, ia tidak sendirian di dalam penderitaan itu.

Yesus sendiri berkata bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita akan menghadapi pencobaan. Iman tidak menghilangkan masalah, tetapi iman memberikan kehadiran Tuhan di tengah masalah.

 

Introspeksi di Tengah Kesunyian

Kisah Zakaria dan Elisabet mengajak kita untuk introspeksi dengan jujur. Bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk bertanya di area mana aku masih belum sepenuhnya mempercayai Tuhan?

Kesunyian bukan tanda Tuhan meninggalkan.
Kesunyian sering kali adalah tempat Tuhan menyingkapkan kondisi iman kita.

Iman bukan warisan.
Iman bukan nanti.
Iman adalah keputusan hari ini, bahkan di saat hidup terasa sunyi.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI