SEBUAH PERTANYAAN YESUS

 


Sebuah Pertanyaan Yesus


Ada banyak hal yang kita lakukan untuk Tuhan. Pelayanan, kesetiaan, pengorbanan, bahkan ketaatan. Namun di tengah semua itu, Yesus pernah mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi menusuk jauh ke dalam hati manusia. Bukan pertanyaan tentang kemampuan, bukan tentang prestasi rohani, bukan pula tentang seberapa besar kita berkorban. Pertanyaan itu adalah: “Apakah engkau mengasihi Aku?”


Pertanyaan ini tidak muncul dalam situasi formal atau ibadah besar. Yohanes 21 mencatat bahwa pertanyaan itu muncul sesudah sarapan, dalam suasana yang sangat manusiawi. Di tepi pantai, setelah malam panjang dan kegagalan, Yesus berbicara kepada Simon Petrus. Bukan untuk menghakimi, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih dalam, hati manusia di hadapan kasih Tuhan.


Kasih Tuhan yang Tidak Diragukan


Satu hal yang perlu dipahami sejak awal: Yesus tidak pernah meragukan kasih-Nya kepada Petrus. Salib sudah menjadi bukti final. Kasih Tuhan kepada manusia tidak bergantung pada performa, tidak naik-turun mengikuti perilaku, dan tidak berkurang karena kegagalan. Kerajaan Allah adalah kerajaan kasih karunia. Semuanya oleh anugerah. Tidak ada tagihan yang harus dibayar.


"It’s done. It’s finished.”

Kalimat ini bukan hanya penegasan kemenangan, tetapi juga pengumuman bahwa kasih Tuhan sudah tuntas. Kita tidak melakukan sesuatu supaya Tuhan lebih mengasihi kita, dan tidak ada hal yang bisa kita perbuat yang membuat Dia kurang mengasihi kita. Kita dikasihi, titik.

Karena itu, pertanyaan Yesus kepada Petrus bukan:

“Apakah menurutmu Aku mengasihimu?”

Petrus tahu jawabannya. Semua murid tahu jawabannya.

Justru pertanyaannya dibalik.


Ketika Pertanyaan Itu Berbalik Arah

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”

Ini adalah pertanyaan yang membuat banyak orang tidak nyaman. Karena Tuhan aman dengan kasih-Nya, tetapi Tuhan ingin kejujuran dari manusia. Pertanyaan ini bukan untuk menilai Tuhan, melainkan untuk menilai hati manusia. Bukan tentang apa yang Tuhan sudah lakukan, tetapi tentang bagaimana respons kita terhadap kasih itu.

Yesus bahkan menaikkan level pertanyaannya:

“Lebih daripada mereka ini?”

Yesus tidak menunjuk sembarang orang. Ia menunjuk murid-murid lain, mereka yang berjalan bersama Petrus, melayani bersama Petrus, dan mengenal Yesus bersama Petrus. Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan persaingan, melainkan untuk membawa Petrus masuk ke dalam kejujuran terdalam, apakah kasihnya kepada Yesus sungguh personal, atau hanya ikut arus?


Petrus - First Among Equals

Petrus bukan pemimpin secara formal. Ia bukan pemimpin karena jabatan. Namun di antara dua belas murid, Petrus sering muncul sebagai figur yang menonjol. Dalam istilah modern, ia adalah first among equals, yang pertama di antara mereka yang setara.

Seperti dalam sebuah keluarga dengan lima anak yang sudah dewasa, semuanya setara sebagai anak, bukan ayah atau ibu. Namun ketika orang tua harus mempercayakan sesuatu, sering kali ada satu anak yang menjadi rujukan pertama. Bukan karena ia paling sempurna, tetapi karena ia paling siap memikul tanggung jawab.

Petrus adalah orang seperti itu. Bahkan setelah kebangkitannya, Yesus berkata: “Beritahukanlah kepada Petrus dan murid-murid yang lain.” Petrus disebut secara khusus, bukan karena ia paling dikasihi, tetapi karena ia akan menerima tanggung jawab.


Mengapa Bukan Yohanes?

Ini pertanyaan yang menarik. Yohanes jelas disebut sebagai murid yang dikasihi Yesus. Bahkan Yohanes sendiri menuliskannya dalam Injilnya. Namun anehnya, ketika berbicara tentang tanggung jawab, kepercayaan, dan kepemimpinan, Yesus sering kali memulai dengan Petrus.

Jawabannya sederhana tetapi dalam:

kepercayaan Tuhan tidak diberikan kepada orang yang paling dikasihi, melainkan kepada orang yang paling mengasihi Tuhan.

Pemakaian Tuhan tidak jatuh di pundak orang yang merasa paling aman dalam kasih, tetapi kepada orang yang berani merespons kasih itu dengan sepenuh hati. Loving God—mengasihi Tuhan, adalah kunci besar dalam kehidupan rohani.


Bukan Kompetisi Rohani

Kasih kepada Tuhan bukan ajang perlombaan. Ini bukan soal siapa yang paling rendah hati, siapa yang paling lembut, siapa yang paling rohani. Alkitab sendiri menyatakan bahwa yang benar-benar lemah lembut dan rendah hati hanyalah Yesus.

Tuhan juga tidak pernah berkata, “Aku paling mengasihi Yohanes.” Yohaneslah yang menuliskannya, dan Tuhan tidak memprotesnya. Selama itu lahir dari hati yang sehat, bukan dari persaingan, bukan dari iri hati, bukan dari keinginan menjatuhkan orang lain, maka merasa dikasihi Tuhan bukanlah masalah.

Bahkan lebih baik merasa dikasihi daripada hidup dalam rasa minder rohani.

Masalahnya bukan pada perasaan “aku dikasihi Tuhan”, tetapi pada sikap hati yang membandingkan, merendahkan, dan memecah. Kasih yang sehat tidak melahirkan kesombongan, dan kasih yang sejati tidak melahirkan persaingan.


Bagian Kita yang Sederhana

Pada akhirnya, pertanyaannya kembali ke satu hal yang sangat sederhana. Kita mungkin tidak tahu siapa yang paling dikasihi Tuhan, itu urusan Tuhan. Kita juga tidak tahu siapa yang paling mengasihi Tuhan, itu juga urusan Tuhan.

Tetapi ada satu bagian yang jelas menjadi tanggung jawab manusia yaitu mengasihi Tuhan.

Mengasihi Tuhan dalam pikiran, perkataan, sikap, perasaan dan setiap keputusan hidup. Mengasihi Tuhan dulu, mengasihi Tuhan lagi dan mengasihi Tuhan seterusnya. Itulah bagian kita.

Dan anehnya, justru di situlah kepercayaan Tuhan mulai bekerja. Kasih yang sejati kepada Tuhan akan mempengaruhi bagaimana Dia mempercayakan tanggung jawab berikutnya. Bukan karena kita layak, tetapi karena kasih itu membuka ruang bagi pemakaian Allah.


Pertanyaan yang Tetap Bergema

Yesus tidak pernah berhenti mengasihi manusia. Itu sudah selesai. Namun pertanyaan-Nya tetap bergema lintas zaman, lintas generasi dan lintas kehidupan,

“Apakah engkau mengasihi Aku?”

Bukan untuk menghakimi.

Bukan untuk menekan.

Melainkan untuk mengundang hati manusia masuk ke dalam relasi yang jujur.

Karena pada akhirnya, hidup rohani bukan tentang siapa yang paling dicintai, tetapi tentang siapa yang sungguh mencintai.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI