TUHAN MEMILIH YANG BIASA
Tuhan Memilih yang Biasa untuk Menyatakan Kesetiaan-Nya
Dalam Lukas 1:26–38, kita membaca kisah yang sangat sederhana, tetapi sarat makna yaitu salam malaikat Gabriel kepada Maria. Jika dibaca sepintas, kisah ini terdengar biasa. Namun jika direnungkan lebih dalam, kita akan menemukan pola hati Allah, pola yang konsisten dari dahulu sampai sekarang.
Alkitab mencatat bahwa Allah mengutus malaikat Gabriel bukan ke kota besar, bukan ke pusat agama, bukan ke tempat yang bergengsi, melainkan ke Nazaret, sebuah kota kecil di Galilea. Nazaret bahkan nyaris tidak diperhitungkan pada zamannya. Ia bukan kota penting, bukan pusat perdagangan dan tidak dikenal sebagai tempat lahirnya tokoh besar.
Namun justru dari tempat seperti inilah Tuhan memulai karya-Nya yang paling besar.
Tuhan Tidak Mencari yang Kelihatan Hebat
Dari Nazaret kita belajar satu hal penting yaitu Tuhan tidak bekerja lewat hal-hal yang kelihatan hebat di mata manusia. Tuhan tidak membutuhkan sesuatu yang mewah, terkenal atau penuh reputasi. Tuhan memilih yang biasa, supaya ketika perkara besar terjadi, semua orang tahu bahwa itu murni pekerjaan Tuhan, bukan hasil kehebatan manusia.
Ini kabar baik bagi kita semua. Karena banyak orang merasa minder bukan karena hidupnya rusak, tetapi karena hidupnya terasa “biasa saja”. Tidak punya pencapaian besar. Tidak dikenal. Tidak dianggap. Namun justru di titik itulah Tuhan sering bekerja.
Minder bukanlah kerendahan hati. Kerendahan hati adalah tahu siapa diri kita di hadapan Tuhan dan tetap percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja melalui hidup kita apa adanya.
Maria dan Yusuf - Kesetiaan dalam Hal yang Terlihat Sepele
Maria bukan perempuan terkenal. Yusuf bukan tokoh publik. Mereka hanyalah pasangan sederhana yang sedang bertunangan. Namun penting untuk dipahami: pertunangan pada zaman itu bukan hal main-main.
Pada budaya Yahudi, pertunangan sudah mengikat secara hukum dan moral. Bahkan jika hubungan itu dibatalkan, statusnya sudah dianggap seperti perceraian. Artinya, sebelum Tuhan mempercayakan perkara besar, Tuhan lebih dulu melihat kesetiaan dalam hal yang dianggap kecil dan biasa.
Maria dan Yusuf setia pada komitmen mereka. Mereka menghormati perjanjian. Mereka menjaga kekudusan. Mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka tahu dan jalani.
Dan di situlah Tuhan masuk.
Sering kali kita ingin Tuhan berbicara tentang perkara besar, tentang masa depan yang tidak kita ketahui. Padahal Tuhan sedang memperhatikan:
Apakah kita setia dalam hal yang sudah kita tahu hari ini?
Setia Sebelum yang Tidak Terduga Datang
Sebelum Tuhan membawa seseorang ke perkara yang tak terduga, Tuhan hampir selalu menguji kesetiaan dalam perkara yang terduga.
Setia pada janji.
Setia pada perkataan.
Setia pada tanggung jawab.
Setia pada komitmen, baik kepada manusia maupun kepada Tuhan.
Allah adalah Allah yang setia. Maka orang yang berjalan dekat dengan-Nya tidak mungkin hidup sembarangan. Bukan karena takut dihukum, tetapi karena hatinya dibentuk menyerupai hati Allah.
Karakter tidak dibentuk saat sorotan datang. Karakter dibentuk jauh sebelum itu, saat tidak ada yang melihat.
Kesetiaan Tuhan Membentuk Karakter, Bukan Sekadar Karisma
Alkitab tidak pernah berkata bahwa Tuhan memilih orang karena karismanya. Yang Tuhan cari adalah karakter.
Seseorang bisa terlihat baik hari ini, tetapi tanpa kedekatan dengan Tuhan, ia bisa jatuh esok hari. Sebaliknya, seseorang yang sedang berantakan hari ini, tetapi memilih untuk mendekat kepada Tuhan, dapat menghasilkan buah pertobatan yang nyata di masa depan.
Kita tidak berbuah karena kemampuan diri sendiri. Kita berbuah karena melekat pada Pokok Anggur yang benar.
Nazaret - Bukti bahwa Tuhan Setia pada yang Rendah Hati
Dari Nazaret, dunia mengenal Yesus.
Dari tempat yang sederhana, lahirlah Juruselamat.
Ini mengajarkan kita satu hal:
Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada kondisi luar, tetapi pada hati yang mau taat.
Jika hari ini hidupmu terasa biasa, bahkan mungkin tidak diperhitungkan, jangan kecil hati. Tuhan tidak melewatkan hidup yang seperti itu. Justru di situlah Tuhan sering bekerja paling dalam.
Karena Tuhan yang setia sedang membentukmu, bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk menjadi pribadi yang bisa dipegang, bisa dipercaya dan siap dipakai pada waktu-Nya.
Mari kita belajar dari Maria dan Yusuf
Setia dalam hal kecil.
Setia dalam hal yang terlihat biasa.
Setia dalam karakter.
Karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia.
Dan orang yang berjalan bersama Allah yang setia, akan diproses menjadi pribadi yang setia pula.
Tuhan Yesus memberkati

Komentar
Posting Komentar