TUHAN TIDAK LUPA DOAMU


TUHAN TIDAK LUPA DOAMU

Belajar dari Zakaria dan Elisabet tentang doa yang terasa gagal

 

Ketika Cacat Itu Akhirnya Kelihatan

Alkitab tidak menutup-nutupi kenyataan hidup tokoh-tokohnya. Zakaria dan Elisabet digambarkan sebagai pasangan yang hidup benar di hadapan Allah, taat kepada perintah Tuhan dan tidak bercacat secara moral. Namun Alkitab juga jujur mencatat satu hal yang sangat menyakitkan: mereka tidak mempunyai anak (Lukas 1:7a).

Di sinilah “cacat” itu akhirnya kelihatan. Bukan cacat karakter. Bukan cacat moral. Melainkan cacat iman yang lelah karena pergumulan panjang. Bukan karena mereka tidak percaya Tuhan sama sekali, tetapi karena harapan mereka sudah sangat terkikis oleh waktu.

Elisabet mandul. Itu keterbatasan pertama.
Keduanya sudah lanjut usia. Itu keterbatasan kedua.

Dua batas besar ini membuat situasi mereka benar-benar buntu. Secara biologis, tidak mungkin. Secara usia, sudah lewat. Secara logika, tidak relevan lagi berharap.

 

Dua Keterbatasan yang Membuat Iman Tertatih

Jika kisah ini terjadi di zaman sekarang, mungkin Zakaria dan Elisabet sudah ke dokter, menjalani berbagai tes kesuburan, menerima diagnosis medis yang tegas, lalu pulang dengan kesimpulan: “ini sudah tidak bisa diusahakan lagi.”

Tetapi mereka hidup di zaman yang jauh berbeda. Bagi orang Yahudi, memiliki keturunan adalah hal yang sangat penting, bahkan sering dikaitkan dengan berkat atau kutuk. Tidak punya anak bukan sekadar kesedihan pribadi, tetapi juga tekanan sosial dan stigma rohani.

Yang membuat kisah ini semakin berat adalah fakta bahwa mereka bukan jemaat biasa. Mereka keturunan Harun. Mereka imam. Mereka pendoa syafaat Israel. Zakaria bukan orang awam dalam hal doa. Keimaman berarti ia adalah orang yang terbiasa berdiri di hadapan Tuhan.

Maka sangat mungkin, bahkan sangat masuk akal, bahwa mereka sudah berdoa lama. Sangat lama. Tahun demi tahun. Mungkin tujuh tahun pertama pernikahan penuh harapan. Dua belas tahun berikutnya masih berharap. Sampai pada satu titik, harapan itu mulai melemah.

 

Ketika Doa Tidak Dijawab, Perlahan Kita Berhenti Berdoa

Lukas 1:7a mengatakan, “Tetapi mereka tidak mempunyai anak.” Kata tetapi di situ memberi kesan adanya doa-doa yang panjang, doa-doa yang diulang dan harapan yang terus diuji.

Bayangkan berdoa selama puluhan tahun tanpa jawaban. Tidak ada terobosan. Tidak ada tanda. Tidak ada mukjizat. Pada titik tertentu, manusia akan mulai bertahan bukan dengan iman, tetapi dengan penerimaan. Bukan penerimaan yang penuh damai, melainkan penerimaan yang lelah.

Di tahap inilah banyak orang percaya membuat “teologi bertahan hidup”:
“Ya sudah, mungkin memang bukan kehendak Tuhan.”
“Ya sudah, ini nasib kami.”
“Ya sudah, Tuhan punya rencana lain.”

Kalimat-kalimat ini terdengar rohani, tetapi sering kali lahir dari hati yang sudah berhenti berharap. Doa tidak lagi dinaikkan dengan iman, melainkan disimpan sebagai kenangan masa lalu.

Zakaria tampaknya sudah sampai di titik ini. Itulah sebabnya ketika malaikat menemuinya, Zakaria terkejut dan tidak percaya. Bukan karena ia tidak mengenal Tuhan, tetapi karena ia sudah lama tidak mendoakan hal itu lagi.

 

Tuhan Diam, Tetapi Tidak Pernah Pergi

Pertanyaannya: mengapa Tuhan diam begitu lama?

Alkitab tidak memberikan penjelasan detail dan mungkin memang tidak perlu. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Tuhan bekerja dalam waktu-Nya sendiri, dengan cara-Nya sendiri.

Namun satu hal yang sangat jelas dari kisah ini yaitu Tuhan tidak pernah menolak doa mereka. Tuhan tidak pernah melupakan doa itu. Doa yang sudah mereka lupakan, justru masih diingat Tuhan dengan sangat jelas.

Ketika Zakaria mendapat giliran masuk ke Bait Allah untuk membakar ukupan, sebuah momen yang sangat sakral, tiba-tiba malaikat Tuhan menampakkan diri. Malaikat itu adalah Gabriel, pembawa pesan ilahi. Reaksi Zakaria sangat manusiawi, terkejut dan takut. Dan itu normal.

Iman tidak menghilangkan rasa takut. Iman tidak meniadakan keterkejutan. Bahkan tokoh-tokoh besar seperti Gideon dan Saul juga mengalami hal yang sama ketika Tuhan menyapa mereka.

Yang menarik, Tuhan tidak langsung menghukum Zakaria atas ketidakpercayaannya yang spontan. Sebaliknya, malaikat itu berkata dengan sangat lembut dan tegas Jangan takut, Zakaria, sebab doamu telah dikabulkan.” (Lukas 1:13)

 

Doa yang Kita Lupa, Tuhan Masih Ingat

Bayangkan perasaan Zakaria saat mendengar kalimat itu. Doa yang mana?
Doa itu sudah lama ditinggalkan. Doa itu sudah tidak diingat. Bahkan mungkin sudah dianggap gagal.

Namun Tuhan masih mengingatnya dengan sangat detail. Bahkan nama anak itu sudah ditentukan yaitu Yohanes. Nama yang tidak mengikuti tradisi keluarga, karena anak ini bukan sekadar anak biologis, melainkan karunia doa.

Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat penting, manusia bisa lupa doanya sendiri, tetapi Tuhan tidak pernah lupa ketika menerima doa kita.

Bahkan doa-doa yang terasa setengah hati, doa-doa yang tidak lagi di-follow up, doa-doa yang terasa prematur, semuanya tetap dicatat oleh Tuhan. Tuhan bukan Tuhan basa-basi. Doa adalah komunikasi yang kudus.

 

Jawaban Doa Tidak Selalu Tentang Kita

Malaikat Gabriel kemudian menjelaskan bahwa anak yang akan lahir itu bukan sekadar untuk kebahagiaan Zakaria dan Elisabet. Yohanes akan menjadi pribadi besar di hadapan Tuhan. Ia akan penuh Roh Kudus sejak dalam kandungan. Ia akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Di sinilah perspektif kita sering kali perlu diubah. Tidak semua jawaban doa diberikan hanya untuk kepentingan kita pribadi. Banyak jawaban doa yang Tuhan pakai untuk menggenapi rencana-Nya yang jauh lebih besar.

Zakaria dan Elisabet bukan pusat cerita ini. Yohanes bukan pusat cerita ini. Bahkan Yohanes sendiri hanya mempersiapkan jalan bagi Yesus.

Jawaban doa sering kali lebih besar dari kebutuhan kita. Tuhan memberkati kita, tetapi melalui kita Tuhan ingin memberkati banyak orang lain.

 

Tuhan Setia, Bahkan Ketika Kita Tidak Setia

Kisah ini menutup dengan pengharapan yang kuat bahwa Tuhan tetap setia. Bahkan ketika iman manusia melemah. Bahkan ketika doa berhenti dinaikkan. Bahkan ketika harapan sudah ditinggalkan.

Zakaria dan Elisabet belajar bahwa doa mereka tidak pernah sia-sia. Jawaban Tuhan mungkin datang terlambat menurut manusia, tetapi selalu tepat menurut Tuhan.

Kesunyian bukan tanda Tuhan tidak bekerja. Kesunyian sering kali adalah ruang di mana Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

 

Jangan Berhenti Terlalu Cepat

Berapa banyak doa kita yang berhenti terlalu cepat?
Berapa banyak doa yang kita anggap titik, padahal Tuhan masih menganggapnya koma?

Tuhan tidak lupa doamu.
Tuhan tidak lalai.
Tuhan tidak kehilangan catatan.

Belajarlah percaya, bahkan di dalam kesunyian.
Karena Tuhan setia, bahkan ketika kita tidak setia.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI