MENJADI ANAK DAN SAHABAT


MENJADI ANAK DAN SAHABAT

(Refleksi Renungan Firman Tuhan Yohanes 15:9-17)

Pendahuluan

Banyak orang mengenal gereja sebagai tempat ibadah. Tempat bernyanyi, berdoa, mendengar firman, lalu pulang. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun dalam Yohanes 15:9–17, Yesus mengajak kita melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya berbicara tentang aktivitas rohani, tetapi tentang relasi. Relasi yang bukan sekadar hadir, tetapi tinggal. Relasi yang bukan sekadar status, tetapi hidup sebagai anak dan sahabat.

Yesus berkata, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu. Tinggallah di dalam kasih-Ku.” Perkataan ini membuka satu kebenaran pentingbahwa kasih yang Yesus berikan kepada kita bukan kasih biasa. Itu adalah kasih yang berasal dari relasi Bapa dan Anak. Kasih yang sama itulah yang Ia bagikan kepada kita.

Tulisan ini mengajak kita merenungkan panggilan itu melalui tiga pokok besar:

1. Anak Tuhan yang aktif dimuridkan

2. Memperbesar kapasitas untuk mengasihi

3. Menjalin persahabatan dengan Tuhan lewat memuridkan

 

Tinggallah di Dalam Kasih-Ku

Yesus tidak berkata, “Datanglah sesekali ke dalam kasih-Ku,” tetapi “Tinggallah.” Tinggal berarti menetap. Tinggal berarti menjadikan kasih itu sebagai tempat hidup.

Tinggal itu seperti anak di rumahnya. Anak tidak perlu alasan khusus untuk berada di rumah. Ia tidak tinggal karena rumahnya nyaman, tetapi karena memang di sanalah tempatnya. Berbeda dengan tamu yang datang dan pergi tergantung suasana, anak tinggal karena ia adalah bagian dari keluarga.

Banyak orang percaya sedang berada dalam proses memahami hal ini. Bukan soal seberapa sering datang ke gereja, tetapi bagaimana kita melihat diri kita di hadapan Tuhan. Kadang tanpa sadar kita memosisikan diri sebagai pengunjung, padahal Tuhan memanggil kita sebagai anak.

Yesus menegaskan, “Jika kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku.” Ketaatan bukan syarat supaya Tuhan mau mengasihi kita, tetapi tanda bahwa kita sadar siapa diri kita yaitu anak.

 

1. Anak Tuhan yang Aktif Dimuridkan

Menjadi anak Tuhan bukan hanya soal status rohani, tetapi tentang cara hidup. Anak Tuhan yang bertumbuh adalah anak yang mau diajar dan dibimbing. Ia tidak berhenti pada mendengar firman, tetapi membuka hidupnya untuk dibentuk.

Pemuridan adalah proses seseorang belajar hidup seperti Kristus. Di dalamnya ada proses belajar, dikoreksi, diarahkan dan dibentuk. Pemuridan bukan sesuatu yang instan. Sama seperti anak yang bertumbuh di dalam keluarga, proses ini membutuhkan waktu dan komitmen.

Yesus sendiri hidup sebagai Anak yang taat. Yesus berkata bahwa Ia menuruti perintah Bapa dan tinggal di dalam kasih-Nya. Dari sini kita belajar bahwa ketaatan adalah bagian dari pertumbuhan sebagai anak.

Tanpa pemuridan, iman mudah berhenti pada pengetahuan. Namun lewat pemuridan, iman bertumbuh menjadi kehidupan. Kita tidak hanya tahu firman, tetapi belajar menjalaninya.

Anak Tuhan yang aktif dimuridkan tidak memilih-milih proses. Ia sadar bahwa Tuhan sedang membentuk hidupnya, bukan untuk menyusahkan, tetapi untuk menumbuhkan.

 

Ketaatan dan Sukacita

Yesus berkata, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Banyak orang mengira ketaatan adalah beban. Namun Yesus justru mengaitkan ketaatan dengan sukacita.

Tuhan tidak meminta ketaatan karena Ia membutuhkan kita. Tuhan meminta ketaatan karena Ia tahu bahwa di sanalah sukacita sejati ditemukan. Sukacita yang tidak tergantung keadaan, tetapi lahir dari hubungan yang benar dengan Tuhan.

Seperti anak yang belajar taat kepada orang tuanya, ketaatan bukan tentang takut dihukum, tetapi tentang kepercayaan. Anak taat karena ia percaya bahwa orang tuanya mengasihinya.

 

2. Memperbesar Kapasitas untuk Mengasihi

Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu.” Ukuran kasih yang Yesus berikan bukan kasih versi kita, tetapi kasih versi-Nya.

Kasih Yesus adalah kasih yang rela berkorban. Kasih yang tidak memilih-milih orang. Kasih yang tidak menunggu dibalas.

Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat.” Kasih yang besar tidak diukur dari siapa yang kita sayangi, tetapi dari apa yang rela kita korbankan.

Di sinilah gereja menjadi tempat latihan kasih. Kita belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Belajar menahan emosi. Belajar memberi dengan tulus.

Kasih seperti ini tidak lahir secara alami. Ia dibentuk dan proses pembentukannya sering kali terjadi lewat relasi dengan sesama.

 

Kasih yang Nyata, Bukan Teori

Mengasihi bukan hanya soal perasaan, tetapi keputusan. Keputusan untuk tetap peduli, tetap setia, tetap memberi, bahkan ketika tidak nyaman.

Yesus mengasihi murid-murid-Nya bukan karena mereka sempurna. Yesus mengasihi mereka dalam proses. Kasih itulah yang kemudian Ia minta untuk kita hidupi.

Ketika kita belajar mengasihi seperti ini, kapasitas hati kita diperbesar. Kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi mulai melihat hidup sebagai sarana untuk memberkati.

 

3. Menjalin Persahabatan dengan Tuhan Lewat Memuridkan

Yesus berkata, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat.”

Perbedaan antara hamba dan sahabat bukan pada ketaatan, tetapi pada kedekatan. Hamba melakukan perintah tanpa memahami tujuan. Sahabat dilibatkan dan diajak berjalan bersama.

Yesus menyebut kita sahabat karena Ia tidak hanya memberi perintah, tetapi juga mengajak kita terlibat dalam apa yang Ia kerjakan.

Salah satu cara kita masuk dalam relasi ini adalah lewat memuridkan orang lain. Ketika kita memuridkan, kita tidak sedang bekerja sendiri. Kita sedang bekerja bersama Tuhan.

 

Dari Dipakai Menjadi Bekerja Bersama

Ada perbedaan besar antara sekadar dipakai dan bekerja bersama. Tuhan tidak sedang mencari alat, tetapi rekan. Tuhan tidak ingin kita hanya menjalankan tugas, tetapi memahami hati-Nya.

Saat kita memuridkan, kita belajar melihat orang lain dengan cara Tuhan melihat. Kita belajar sabar, setia, dan peduli. Di situlah relasi kita dengan Tuhan diperdalam.

Hubungan pun berubah. Dari sekadar melakukan perintah, menjadi berjalan bersama Tuhan.

 

Buah yang Tetap

Yesus berkata bahwa Ia memilih dan menetapkan kita untuk menghasilkan buah dan buah itu tetap. Buah bukan hanya hasil pelayanan, tetapi perubahan hidup.

Buah yang tetap lahir dari relasi yang tinggal. Dari anak yang bertumbuh. Dari sahabat yang berjalan bersama Tuhan.

 

Menjadi Anak dan Sahabat

Yesus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Tuhan memilih kita untuk menjadi milik-Nya. Memanggil kita sebagai anak. Mengajak kita hidup dekat dengan-Nya.

Inilah panggilan kita yaitu menjadi anak dan sahabat. Anak yang mau dimuridkan. Sahabat yang mau berjalan bersama Tuhan. Hidup dalam kasih-Nya, dan membagikan kasih itu kepada dunia.


Tuhan Yesus memberkati

Komentar

APA YANG KAMU DOAKAN SUDAH ADA DAN SUDAH DIBERIKAN

DENGAN KASIH YANG KEKAL

JANGAN MINTA KEKUATAN LEBIH DULU SEBELUM MELANGKAH

JANGAN REMEHKAN KESELAMATAN YANG TUHAN BERI